STWJILBAB menghadirkan cerita dari seorang pemuda yang pertama kali merasakan sensasi nikmat dari perbuatannya, daripada lama-lama penasaran yuk simak ceritanya,

Disuatu sekolah daerah Jakarta, banyak murid bandel yang sering nongkrong.
“lo akrab banget keknya Don sama Erik.” Ucap Dimas teman sebaya Rendy.
(Rendy dan Dimas kelas 3, sedangkan fikri masih kelas 2.)
“Soalnya kaya doi bro hehehe, baek juga lagi bocahnya.” Balas Rendy kala mereka sedang nongkrong di warung basecamp sekolah itu nongkrong.
Dimas yang tau kalo temennya itu tukang boongin orang. Tertawa sambil berkata, “menang banyak dong lo.”
“yoi, tapi tujuan gue mah ada yang lain pa.” Celetuk Rendy sambil menghisap rokok.
“Apa tuh?” tanya Dimas.
“Pembantu doi cakep, nah si Erik cuman tinggal bertiga sama kakaknya yang cewe sama pembantunya.” Terang doni menjabarkan.
Dimas yang duduk disebelah doni dan tak terlalu akrab dengan Erik pun melontarkan pertanyaan, “lah orang tuanya kemane dong?”
Mereka nongkrong di warung ada sekitar 13 orang, dan ada Erik juga sama beberapa teman angkatannya. Tapi duduk mereka tak saling berdekatan.
“Kan Erik perantauan boy, kakaknya juga gawe balik malem. Pembantunya kek orang polos gitu tapi gue yakin sih bisa dipake hahaha.” Balas Rendy.
“Ah tai omongan lo mah semua cewe juga bisa dipake.” Timpal Dimas menyangkal.
“Beneran pa pakaiannya aja masih sopan banget tuh, gue juga udah ngobrol sih sama pembantunya. Gue yakin pasti bisa di pake.” Rendy meyakinkan omongannya.
“Ajak gue kalo gitu Don kalo lo main kerumah Erik hahahaha.” Dimas tampak ingin melihat pembantu Erik.
“nanti ye kalo si Erik mau.” Ujar Rendy.
……
2 hari setelah itu, Rendy yang bete dirumah mengajak Erik untuk nongkrong. Erik pun mau.
“nongkrong dimana Don?” tanya Erik yang lagi dirumah.
“minum aja asik tuh dirumah lu don sambil cerita cerita.” Balas Rendy yang sedang dirumah juga.
“Menarik tuh, yauda sokin (kemari) dah” Erik.
Rendy : “gue ajak Dimas boleh ga Rik biar gak beduaan banget kita nongkrongnya kan rada bosen kalo berdua doang.”
Erik : “ajak aja dia.”
Rendy : “tapi duit gue cuman gocap doang lagi buat beli minuman, entar juga besok bisa gak jajan gue dikantin.”
Erik : “yaudah nanti gue yang beli minuman, deket komplek ada ko.
Rendy : “emang paling top lo Rik, okedeh gue kesitu ngajak Dimas.”
Rendy segera memberitahukan Dimas, dengan senang hati Dimas pun mau apalagi minuman dibeliin.
(Btw Rendy ini orangnya jago ngomong dan bisa bikin orang akrab sih sama dia. Kalo ditongkrongan karakter kek Rendy gini kuat banget.)
…….
Sekitar jam 8 malam, Dimas dan Rendy tiba di rumah Erik.
“Kakak lo kemane Rik?” tanya Rendy kala mereka bertiga duduk diruang tamu rumah Erik.
Sambil bercanda Erik menjawab, “yah elu malah nanyain kaka gue. Lo harusnya nanya Naomi don.” (Naomi itu pembantunya fiki.)
“kalo Naomi mah gausah ditanya, dia pasti ada dimari nungguin kedatangan gue kan.” Timpal doni yang duduk santai melebarkan tangannya disofa dan mengangkat kedua alisnya belagu.
“anjir emang lo siapa ditungguin pembantunya Erik hahaha.” Celetuk Dimas ikut mengobrol.
Dengan sombongnya Rendy melihat Erik, “kasih tau Rik kalo gue udah masuk ke dalam kk (kartu keluarga) Lo”
Erik tertawa dengan celetukan Rendy, “iya Dip dia udah diangkat anak sama bokap gue.”
Rendy menepuk paha Dimas yang berada disampingnya sambil berkata, “tuh dengerin kata die.”
Dimas tertawa dan berkomentar, “enak juga lo Don.”
“btw, lo tinggal sama siapa aja Rik dirumah gede gini.” Sambung Dimas melirik kearah Erik.
Erik menuturkan kalo dia tinggal bertiga sama kakaknya dan pembantunya.
Lantas Erik mengambil minuman yang udah dibelinya mereka pun minum bertiga sambil mengobrol becanda penuh tawa.
Sebotol sudah berjalan abis.
“tenang masih ada sebotol lagi anggur.” Celetuk Erik dan berjalan mengambil.
Dimas dan Rendy berbisik, “baek kan dia.” Ujar doni
“mane pembokatnya doi?” tanya Dimas.
“Dikamar kali, kalem aja nunggu moment kita.” kata Rendy.
…….
Mereka minum kembali setelah Erik membuka anggur, saat di pertengahan minum tiba tiba Rendy membuka obrolan dengan pedenya. “tapi nih ya Rik, pembokat lo keknya bisa dipake ya.”
Erik yang lagi menengak minuman digelas langsung tersenyum. “kagatau don, cobalah kalo lo mau coba.”
“Anjir.” Hanya itu respon yang keluar dari mulut Dimas.
Rendy pun berdiri dari sofa membetulkan pakaiannya.
“mau ngapain Lo?” tanya Dimas melihat gelagat sobatnya.
“lo gak denger tadi disuruh coba ahahahha. Lo liat nih Rendy beraksi.” Dengan sombongnya Rendy berbicara menepuk pede dadanya.
“Gue intip ya nanti.” Balas Dimas becanda.
Rendy tersenyum, “kamarnya Naomi yang di atas kan Rik?” Rendy melihat kearah Erik.
Dengan santainya sambil merokok Erik membalas, “ah elu udah sering kesini juga masih pake acara nanya-nanya aja.”
Rendy pun berjalan tak lupa menoleh kebelakang melempar senyum kepada Dimas.
Dimas lanjut minum dengan Erik berdua sembari mengobrol ringan seputar sekolah dan kehidupan Erik.
……
“Naomiiiii ohhh Naomiiiii.” Rendy yang sedikit mabuk mengetok kamar Naomi beberapa kali
Pintu kamar pun terbuka memperlihatkan ani yang sedang memakai tanktop putih dengan celana hotpants. “Seksi banget ni.” Komentar Rendy sedikit takjub.
“ah mas Don bisa aja, Naomi kalo mau tidur emang gini pakaiannya. Ngomong2 ngapain mas Don kesini?” tanya Naomi.
(Sebelom lanjut gue mau lurusin yak, jadi Erik tuh pindah ke Jakarta waktu kelas 1 SMP. Makanya dia udah lancer sama daerah sini udah gapake Bahasa daerah dia.)
“Emmmm ini ni, bosen aja ngobrol sama Erik mulu. Masa batang ketemu batang hahaha.” Canda khas Rendy sambil tersenyum.
Naomi tersenyum tipis mendengar celotehan Rendy.
“Boleh masuk ga ni?” tanya Rendy yang lagi tinggi berbau anggur dimulutnya.
“Emm boleh deh mas Don, tapi Naomi haus mau ngambil minum dulu.” Balas Naomi yang memang genit juga.
(Naomi hanya beda 1 tahun dengan Erik. Tapi Naomi putus sekolah karena gatau dengan alesan apa ya.)
“abang Rendy aja yang ngambil ni.” Ucap Rendy mengambil air putih dan melempar senyumnya ke ani.
…….
Setelah itu mereka duduk di lantai yang beralaskan kasur tipis gitu sambil menonton tayangan tv yang disediakan oleh keluarga Erik untuk Naomi.
“matiin lampu aja ya ni silau.” Seru doni berujar.
Naomi menganggukan kepala.
Rendy mematikan lampu dan duduk disampingnya Naomi lagi menonton tv.
……..
Tampak suasana canggung terjadi, tapi bukan Rendy namanya kalo dia gabisa mencairkan suasana.
“Naomi udah lama ya ikut keluarga Erik?”
Naomi : “ya pas mas Erik tinggal dijakarta.”
Rendy : “gimana sih ni ceritanya bisa kerja sama Erik?”
Naomi : “ya waktu itu di kampung, bapaknya mas Erik lagi nyari pembantu buat di Jakarta karena mas Erik mau sekolah SMP di Jakarta. Terus yaudah tiba tiba bapak aku nyuruh aku kerumah mas Rendy.” Naomi menjelaskan sambil sedikit menunduk.
Rendy : “emang kamu putus sekolah dari kapan ni?” tanya Rendy memperhatikan Naomi dengan mata sedikit sayup efek alkohol.
Naomi : “ko mas Rendy tau aku putus sekolah? Pasti mas Erik yang cerita ya.” Naomi sedikit melepaskan senyumnya.
Rendy hanya tersenyum seraya berkata, “iya. Aku sih yang duluan nanya sama Erik, soalnya pas liat kamu. Aku penasaran sama wanita cantik ini.” Rendy mencubit sedikit dagu Naomi.
Naomi menunduk tersipu malu sambil tersenyum lebar. “bisa aja mas Rendy.” Dan memukul pelan pundak Rendy. “ya gitu aku sekolah cuman sampe kelas 3 (SD) bapak aku utangnya banyak mas dikampung.” Lanjut Naomi menjelaskan
“oalah bisa gitu yak.” Respon Rendy menyimak cerita.
“bisa lah bapak aku kan suka judi.” Seru Naomi membuang muka kearah tv ketika menjelaskan itu.
Sontak Rendy memeluk Naomi dan mengelus punggung Naomi perlahan, “sabar yak ni. Semoga kamu kuat. Kamu hebat.” Rendy masih memeluk Naomi terlihat nafsunya sudah sedikit naik.
Naomi membalas pelukan itu dengan mengalungkan tangannya dipunggung Rendy, “makasih ya mas Rendy.”
Rendy melepaskan pelukan dan memandang wajah Naomi lalu beberapa detik kemudian melayangkan ciuman tepat dibibir Naomi.
Naomi yang mendapat perlakuan dari Rendy awalnya kaget terdiam, tapi lama kelamaan dia membalas ciuman Rendy dengan melumatnya. Mereka pun beradu ciuman dan beradu lidah dengan nafsu menggebu gebu.
Asik berciuman, Rendy pun melepaskan bibirnya lalu tangannya menjalar ke bagian baawah tanktop Naomi untuk melepaskannya. “Naomi malu mas.” Respon Naomi memandang Rendy.
“Sssssttttt. Gapapa ni, gue pengen banget.” Bisik Rendy diatas Naomi, dimana posisi Naomi dibawahnya tiduran. Suara Rendy pun sedikit serak.
Mereka berdua sebenarnya diawasi dari jendela sama Dimas dan Erik. Sejenak Erik mengajak Dimas kebawah.
“anjir edan emang doni.” Ujar Dimas yang udah duduk dilantai bawah dan meminum minuman di gelasnya.
Erik yang meroko tersenyum, “ya namanya juga pembantu Dip.”
Dikamar Naomi
Tampak Naomi sudah memakai cd dan bra, mereka berciuman sambil tangan kiri doni menggerayangi toket Naomi masuk dalam bh.
Suara ciuman yang berisik terdengar dikamar itu “cellpppppp celpppppp.”
Rendy melepaskan ciuman dan melepaskan baju serta celana pendeknya menyisakan cd nya sambil tersenyum ke Naomi yang berada dibawahnya.
Lalu Rendy melepaskan bh Naomi dan melepaskan cdnya. Selama Rendy melepaskan bh dan cd Naomi, Naomi menengok kesamping tak berani melihat ke arah Rendy.
Dan terpampang lah tokett Naomi berukuran 34c dengan puting pink yang membuat Rendy makin sange, serta bulu kemaluan di memek Naomi hanya sedikit aja. Saat Rendy menjamah memek Naomi, memek Naomi sudah basah.
Rendy menurunkan wajahnya menjilati memek Naomi menggunakan lidahnya. “eeeehhhhh emmmmphhhhhhh.” Dengus Naomi merem dan menggenggam seprei sangat kuat saat Rendy menjilat memeknya.
“massss Ddoniiiii ahhhhhhhhh jangannn digituin massss.” Naomi sedikit berteriak.
Rendy melepaskan jilatannya, “jangan berisik ni.” Dan lanjut naik ke toket Naomi mengisap puting Naomi yang pink. Kadang Rendy juga sedikit menggigitnya.
“awwwwwwwww.” Ucap Naomi saat Rendy mengigit putingnya.
“Emmmphhh uhhhhhhh awwww.” Naomi bersuara ketika putingnya diisap dan memeknya dimasukin 2 jari Rendy.
Setelah puas, Rendy duduk diatas kasur dengan kedua lutut sebagai tumpuannya dan melepaskan cdnya dengan cepat. Naomi hanya bengong tiduran melihat kearah kontol Rendy yang berukuran 14 cm dengan diameter sedikit besar.
“Sepong dong ni.” Ucap Rendy pelan.
Naomi sedikit bangkit dan menggenggam kontol Rendy dengan tangan kirinya lalu mengulumnya, “slurppppbslurrppppp.” Suara yang keluar saat Naomi menghisap kontol Rendy, kadang bola mati Naomi melirik kearah wajah Rendy sambil tetap menyepong.
Rendy hanya menikmati sambil meraba punggung Naomi mengelusnya.
“Udah ni.” Ucap Rendy saat Naomi mengisap. Lalu Naomi menghentikan aktivitasnya. Rendy pun merebahkan tubuh Naomi kekasur dan mengarahkan kontolnya kememek Naomi dan “blessssssss.” kntol Rendy masuk. “auwwwww.” Teriak Naomi sedikit lalu menutup mulutnya dengan permukaan tangan kanannya.
“Plokkkkkkkkkk ppppplllllokkkkkkkk.” Suara ketika Rendy menggoyang kontolnya didalam memek Naomi.
Rendy juga sedikit berkeringat di sekitar dahinya .
“Uhhhhhh massssss donniiiiiii peee…laaa..n massss.” Dengus Naomi dengan suara pelannya.
Rendy asik mencumbu Naomi sambil meremas remas toket Naomi dengan tangannyaaaa.
Naomi merem nampak menikmati, “empphhhh empphhhhh.”
“mauuuu keluarrr ni.” Seru Rendy yang asik bergoyang lalu beberapa detik kemudian mencabut kontolnya dan mengarahkan kontolnya ke wajah Naomi dan memuntahkan cairan sperma menyempoti wajah dan area seprei.
“Ahhh mas Rendyiiiii.” Lenguh Naomi saat cairan Rendy sudah keluar semuaaa.
“Enakk banget ni.” Komentar Rendy yang duduk lemas ditepi ranjang.
Naomi hanya tersenyum sambil tiduran mengelap cairan Rendy dengan tengtopnya.
“ko dielapnyaa pake gituan ni?”
“Gapapa mas, aku juga yang nyuci.”
Beberapa menit kemudian setelah berpakaian Rendy turun kelantai bawah. Terlihat kedua temennya itu tersenyum lebar dan Dimas bersuara, “edan emang lo.”
Rendy hanya tersenyum lalu duduk, “lo coba dong.” Dia mengambil minuman yang sisa segelas dan meminumnya.
“bolehhhh.” Tanpa basa-basi Dimas langsung berjalan keatas.
……
Pintu kamar Naomi masih terbuka, Naomi masih memakai bh dan cd aja terlihat dia sedang mengelap beberapa cairan di sekitar seprei dan “ehhhhh.”
Muncul sosok Dimas di pintu, “gue temennya Rendy sama Erik. Gue juga udah ngeliat lo sama Rendy ngapain aja ko tadi.” Celoteh Erik berjalan masuk dan duduk disampingnya Naomi.
Naomi hanya diam berusaha menutupi dirinya dengan tangannya sambil menunduk.
Dimas yang agresif langsung meraba tokett Naomi dari luar bh berwarna hitam.
Dan memainkan tangannya menjamah mmek Naomi yang terbungkus cd merah.
Mendapati perlakuan seperti itu Naomi hanya terdiam menunduk sambil merem seperti takut.
Dengan cepet Dimas membuka bh dan memainkan tokett Naomi sambil duduk berdampingan. Rabaan secara bergantian dari toket sebelah kiri dan kanan.
“gue mah cuman minta disepong ni.” Ucap Dimas lalu melepaskan celana dan sempaknya masih memakai kaos.
Naomi diam saja duduk.
Dimas pun berjalan dikit dan mengarahkan kontolnya dekat dengan bibir ani.
Naomi masih tak merespon.
Lalu Dimas tiduran, “isep doang daripada gue bilangin kakanya Riki.” Dimas memberi sedikit ancaman.
Rasa malu dan sedikit takut terlihat dari raut wajah Naomi yang sudah telanjang. Ia pun berjalan dan mengocok kontol Dimas malu sambil membuang muka.
“Sepong ni, gue cepet ko keluarnya.” Dengus Dimas tiduran.
Naomi menuruti dan memasukkan kontol Dimas yang panjangnya sekitar 11 cm dan diameter nya juga kecil.
Naomi menyepong dengan pelan kadang juga melepasnya untuk membenarkan rambutnya.
“Terussss niii.”
“slurpppp slurrppppp.”
Dan beberapa menit kemudian Dimas mengeluarkan spermanya di mulut Naomi.
Naomi melepeh spermaa itu tissue. “wueeeee.” Suara Naomi seperti jijik karena gapernah ada yg mengeluarkan sperma didalam mulutnya.
Dimas membersihkan sisa peju di kontolnya dengan tissue yang tersedia dan memakai pakaian kembali.
Sebelom keluar Dimas tersenyum dan “makasih ya ni.”
Sambil memakai pakaian Naomi memandang jutek ke Dimas tak menjawab ocehan Dimas.
……
“Bentar banget bro.” Ledek Rendy sambil sedikit tertawa.
“Hahaha emang cepet gue mah.” Balas Dimas santai.
Mereka pun ngobrol sambil merokok.
Tiba tiba Rendy, “jangan jangan lo pernah yak Rik sama Naomi.” Sambil tersenyum.
Dimas juga curiga, “iya nih.”
“Anjir enggalah bukan level gue.” Sangkal Erik duduk santai menghisap rokok.
Sekitar pukul 11 malam, Rendy dan Dimas pun pulang dari rumah Erik.
Di jalan pulang, sambil beriringan dengan mengendarai motor masing masing. “jangan cerita cerita ke bocah lo.” Ucap doni
“Yaiyalah ceritain aja rejeki kudu dibagi2.” Balas Dimas tersenyum.
Rendy : “Kasian Naomi egeeeee.”
Dimas : “sama pembokat aja kasian, suka lo ya?”
Rendy : “anjirrr engga lahhh. Yaudah sih seterah.”
Lalu mereka pun pulang kerumah masing masing.
Walaupun yang mengingatkan untuk tidak membocorkan kejadian semalam. Tapi ketika Dimas di sekolah, kabar terlalu cepat menyebar.
Dimas tau kalo sobatnya itu Rendy pasti bocor mulutnya apalagi tentang cewe, behhh Rendy gacornya.
“Gede gak toketnya?”
“Memeknya tembem gak?”
“Hahaha lo ngape cepet keluar?” Beberapa pertanyaan dari teman nongkrong Dimas dan Rendy. Dimas dan 3 orang lainnya sedang dikantin, nampak Rendy belom terlihat.
“Buseh satu satu anjim nanyanya!!” Sewot Dimas risih.
“lo pada main dah kerumahnya, biar pada percaya.” Celetuk Dimas membenarkan cerita tersebut.
……
“ikut lagi Dip?” Erik bertanya ketika Dimas baru tiba di warung tongkrongan.
Disana, Rendy dan Toni sudah diatas motor lagi manasin motor. Ada juga Imam dan Agung.
“Mau pada kemana?” Dimas heran mereka semua sedang mau pergi.
Si raja gombal Rendy berujar, “biasa kerumah Erik.”
Dimas membeli roko dahulu setelah itu, “duluan deh gue mau jalan sama cewek gue.”
“yaudah.” Balas Rendy.
Mereka pun berangkat Kerumah Erik. Entah kenapa walaupun Erik masih kelas 2 tapi dia senang bergaul dengan seniornya.
……
“ohhh itu orangnyaaa.” Sahut Imam ketika melihat Naomi lagi menaruh pakaian kotor dilantai bawah. Sejenak Naomi yang melihat teman majikannya lagi pada kumpul, ia memberi senyuman sembari berjalan kembali keatas.
“Manteppp sih bodynya tapi mukanya B aja!” teriak Toni yang mengangkat kaki satunya ke sofa.
“lah kakak lo mana Kri? Katanya lo tinggal bertiga?” Tanya Agung menyulut rokok di mulutnya.
“ada le tapi lagi kerja.” Pungkas singkat Erik.
“kerja dimana?” tanya Imam mulai kepo.
“Di bank xxxx.” Balas Erik.
Lagi asik berbincang bincang. “Rendy kemana ya?” tanya Toni celingak celinguk dari arah dapur.
Imam : “Katanya boker?”
Agung : “lagi ngentt kali coba cek.”
Tonny berjalan cepat kelantai atas kemudian turun kembali, “engga ah pembokat Erik aja lagi jemur pakaian.”
“yaudah palain lah pel.” Seru Imam tersenyum.
“gak pede gue. Minum dulu dah.” Balas Tonny.
Singkat cerita mereka patungan untuk membeli minuman sekembalinya Rendy ke perkumpulan.
…….
Hari yang semakin sore, ditambah dengan hangatnya alkohol didalam tubuh para pemuda ini menjadi sange karena cerita Rendy. Tonny pun mengambil kudakuda stretching.
“Set pemanasan lo, mau ikut PON Lo?” canda dari Imam terlontar.
“Lebih ke lomba renang sih doi hahahha.” Timpal Agung menambahkan.
Tiba tiba, “gue tinggal dulu ya, cewe gue didepan komplek.” Seru Erik berdiri mengambil jaketnya.
“Lah tuan rumah masa cabut.” Kata Imam.
“Selow sih paling makan gue, santai aja ad. Kaka gue juga jarang pulang.” Ujar Erik bergegas ke arah motornya yang terparkir diluar rumah.
“anggap aja rumah sendiri ad!!” seraya Tonny berkata.
“Enak juga sih punya rumah gini mah.” ujar Imam
“buru, lama geraknya!” terlihat Rendy mengompori temannya untuk segera beraksi ke kamar Naomi.
“temenin yuk!!” minta Tonny ke Imam.
Imam pun berdiri dan mereka berdua kelantai atas.
……
Beberapa menit kemudian, Imam dan Tonny turun kebawah sambil tertawa puas.
“Lah kocak turun lagi.” Rendy menimpali melihat mereka berdua tertawa.
Imam : “anjir tompel beringas banget. Masa pembantunya Erik disekep.”
Agung : “lah gitu dah!”
Tonny : “bukannya gitu bege, gue baru mau meluk dia eh peler gue malah ditendang. Yauda gue bekep aja mulutnya biar dia gak ngelawan. Eh peler guee malah ditendang lagi.”
Sontak mereka semua tertawa.
“biar gue palain dah.” Tutur Rendy berjalan keatas.
“ini baru pahlawan kita.” Imam menyambar dan melihat doni melangkah kelantai atas.
…..
15 menit berlalu, Tonny yang mabok parah nampak tak sabar. “buset lama juga gabisa didiemin nih.” Langsung Tonny ke lantai atas.
Sesampainya diatas tompel melihat kamar ani yang tertutup rapat, hordeng menutupi jendela dan gelap juga menunjukkan suasana tempat itu.
Lalu Tonny mengambil minuman, “tok… tok….” “Don, minum nih kali lo haus.” Berulangkali Tonny melakukan hal itu. Akhirnya ia capek sendiri dan turun kebawah.
……
“Siapa sih tadi ngetok ngetok.” Sapa Rendy ketika di lantai bawah.
“Lo sih lama banget.” Balas Tonny dengan mimik muka jengkel.
“Udah tuh gantian dah.” Rendy membakar roko.
Tonny dan Imam pun naik berbarengan.
Kali ini Naomi diam saja, tampak tompel menggrepe toket Naomi sebelaah kanan dan Imam mengemut puting Naomi sebelah kiri.
Naomi hanya merem lemas tak berdaya, sejenak Imam yang asik mengemut puting langsung menggerayangi tokett sebelah kanan. Karena Tonny membuka celana Naomi dan cdnya. “crekkkkk crekkkkk.” Tonny memasukkan tiga jari ke vagina Naomi yang basah.
“Empphhhhh eeeemmmmnppppp.” Suara Naomi kecil tak kuat akan perlakuan teman majikannya.
Tonny melepaskan celana dan sempaknya. Lalu mengarahkan kontolnya ke arah mulut Naomi. Imam agak menjauh melihat tingkah tompel.
“Eeeeeeee eeeeeeeee.” Suara Naomi dengan tak mau membuka mulutnya dimana letak kontol Tonny sangat dekat sekali berjarak 1 cm dan ditempelkan di mulut Naomi.
Dengan wajah sangenya, “ni isep ni.” Ujar Tonny.
Imam yang melihat wajah Tonny pun menahan tawa.
Naomi masih menolak.
“isep dong Naomi sayang.” Seru Tonny sambil memaksa masuk kontolnya dengan menekan kepala belakang Naomi.
Tapi bukannya diisep, kontol Tonny malah digigit. “anjing.” Dengus Tonny yang kaget akan aksi Naomi.
Imam yang tak kuat menahan tawa, berlari kecil kebawah sambil tertawa terbahak – bahak.
“Lah kenapa lo?” tanya Agung yang rebahan di sofa, sedangkan Rendy sudah tertidur pulas disofa.
Belom sempet menjawab Tonny turun kebawah sambil tertawa juga.
Imam menceritakan kejadian diatas dan Agung juga ketawa. Lalu Rendy terbangun dan bertanya tanya. Imam menjelaskan lagi.
“Yaudah ke atas lagi lah.” Celetuk Rendy.
“udah ga napsu.” Balas Tonny tersungkur lesu di sofa.
“Biar Abang yang turun tangan.” Agung mematikan rokoknya dan berdiri membetulkan celana lalu naik keatas.
……
Diatas Naomi sedang membuka hordeng, lalu mengisi air di ember kamar mandi atas. Agung mengajak Naomi berkenalan.
“parah ya dua orang tadi.” Agung membuka topik obrolan memerhatikan Naomi yang sedang dikamar mandi.
“tau ih.” Balas Naomi singkat karena ia melihat Agung yang ramah dan sedikit ganteng.
“Kalo pada mabok emang gitu, susah ngontrol napsu padaan..” balas Agung.
“Termasuk kamu?” tanya Naomi menoleh ke Agung.
Lalu Naomi berjalan keluar kamar mandi dan masuk ke kamarnya.
“Jujur aku sih juga, tapi kalo cewek itu gamau ya aku gamaksa sih orangnya.” Rayu Agung sambil berdiri didepan kamar Naomi.
“oh bagus deh.” Naomi tiduran di kasur menonton tv.
Agung masuk kekamar Naomi dan duduk dibawah.
“ni, kalo aku minta gituan. Kamu bakal nolak gak?” tanya Agung duduk diatas tepi ranjang Naomi.
Naomi yang masih tiduran memandang wajah Agung tidak menjawab sepatah katapun.
Melihat respon Naomi, Agung mencium lembut bibir Naomi.
Naomi juga membalas lembut perlakuan Agung dengan melumat bibirnya.
“Boleh aku buka baju kamu?” tanya Agung mereka berjarak dekat sekali.
Naomi dengan mata yang sayu mengganggukan kepala.
Agung melepas baju Naomi dengan pelan selanjutnya bh kuning Naomi.
Lalu memajukan tangan kirinya untuk meremas toketnya Naomi dan mencium bibir Naomi dengan sambil lembut. Nafas Naomi yang tak teratur membuat Agung makin bernafsu. Ia pun melepas celana dan cd Naomi, lalu menggosokkan tangan kanannya di permukaan mmek Naomi.
“Uhhhhhh emmmmmm.”
“Emmmmmmm.”
“Ohhhhhh.”
Desah Naomi ketika Agung memasukkan jarinya kedalam memeknya dan memaju mundurkan dengan perlahan.
Agung juga mengemut puting Naomi secara bergantian.
“masukkkinnnnn masss.” Dengus Naomi tak tahan akan perlakuan Agung..
Agung tersenyum dan melepas sempaknya. Naomi sedikit terbelalak melihat kontol Agung yang diameternya gak gede tapi panjangnya hampir 17cm.
“maassss tolongggggg goyangnyaaa jangan kencengggg kencenggg.” Ucap Naomi ketika Agung memasukkan kontolnya dengan lembut sekali.
Agung memajumundurkan kontolnya pelan sekali. Iaa memasukkan setengah kontolnya tapi Naomi tampak menikmatinya dengan merangkul leher Agung dan memejamkan mata seraya berdesahhhh “ahhhhh enakkkkkk ohhhhhh yaampunnnnn.”
“Uhhhhhhhh uhhhhhhee heeeheeeh.” Rancau Naomi ketika Agung menaikan sedikit goyangan kontolnya.
Lagi asik bercumbuu tiba tiba pintu terbuka, karena Agung tak mengunci pintu hanya menutupnya.
Agung yang melihat sosok itu kaget dan menarik kontolnya lalu menggeser pantatnya kebelakang sudut ranjang.
“ohhh bagus.” Suara sosok tersebut berkata.
Naomi yang mengenali suara tersebut segera menoleh kedepan pintu dan kaget menutupi tubuhnya “Kak Hany.” Dan Naomi mencari bajunya untuk memakainya. Agung juga menutupi selangkangann dengan sempak tapi belom dipakai.
“GAUSAH PAKE BAJU, SINI KALIAN BERDUA BERDIRI!!!!” teriak kakaknya Erik marah sekali melipat kedua tangannya didadanya.
Naomi dan Agung berjalan sedikit ke depan Kak Hany, Naomi menundukkan kepala sambil bertelanjang. Ia menangis sambil berdiri. Terlihat Agung disampingnya memandang Naomi sambil menutupi kontolnya dengan sempak.
“NGAPAIN NANGIS!!! TADI LO NIKMATIN!!” teriak Kak Hany kembali didepan wajah Naomi. Entah suara itu menggelegar sampai keluar rumah atau tidak. Tapi dengan kondisi rumah yang besar dan sepinya suasana komplek mungkin tak terdengar.
Lalu kakanya Erik memelototi muka Agung sembari teriak, “TADI GAKK MALU LU!!!” dan menarik sempak Agung serta membuangnya ke asal aja.
“DUDUK LO BERDUA!!”
Mereka duduk ditepi ranjang.
“LO PEMBANTU MANA? UDAH SEJAK KAPAN LO SERING SAMA ANI!!!” dan “plakkkkkk.” Suara tamparan mendarat di pipi kanan Agung.
Agung mengusap pipinya sambil memasang muka kesel, “saya bukan pembantu ka. Saya temennya Erik.” Agung berkata santai.
Seketika Agung berdiri, “saya tau saya salah, saya siap dihukum dipanggil polisi juga siap.”
Kakanya Erik hanya diam memandang Agung dengan muka marahnya.
“OKE!! GUE TERIAK YA BIAR WARGA KESINI TERUS NYERET LO BERDUA KELUAR!!!” menunjuk jari telunjuknya ke arah muka Agung.
Dengan beraninya Agung menjawab, “ka maaf sebelumnya. Kita melakukan ini atas dasar suka sama suka. Dan untuk hal seperti ini, mungkin udah bukan jamannya main hakim sendiri. Kekantor polisi aja ka, itu lebih pantas.”
Tampak kakanya Erik seperti berfikir, lalu “ngelawan mulu lo bocah. Kalian pake dah baju kalian, gue tunggu dibawah.” Dia lalu bergegas turun kebawah.
Agung dan Naomi memakai bajunya masing masing terlihat Naomi masih tersedu sedu, air matanya tidak keluar tapi ia sedih.
Agung yang sudah berpakaian melihat Naomi merenung, “kenapa diem aja ni?” Ucap Agung lalu duduk disampingnya.
Naomi yang malang hanya, “aku takut dibalikin kekampung.”
Agung yang mendengar itu tak bisa berkata apa-apa dan berusaha menguatkan Naomi, lalu mengajaknya turun kebawah. Tapi Naomi menolaknya. “Kamu aja yang turun, aku takut.” Seru Naomi yang mengambil pakaian nya lalu dipakainya.
Agung memperhatikannya tapi setelah baju dipake, Naomi malah memilih tiduran di ranjang dan menutupi wajahnya dengan guling sambil terisak tangis.
Dengan perasaan bersalah Agung berjalan perlahan ke arah tangga, dan baru beberapa saja melangkahi anak tangga ia mendengar suara sayup orang dimarahi dan tiba tiba hening.
Agung berjalan kebawah, ternyata disana sudah ada Erik yang duduk dihadapan kakanya dengan mukaa lesu. Sedangkan kakanya Erik menatap Agung dengan penuh amarah.
“MANA ANI!!!”
Agung : “takut ka dia, masih nangis dikamar.” Terang Agung menjelaskan.
“OH LO SENIOR ADEK GUE, DUDUK SITU!”
Agung duduk di samping Erik, karena kakanya menunjuk kesitu.
“lo ketempat Pak Syukur, ajak kesini!” perintah kakanya kepada Erik.
“Pak Syukur kan masih kerja ka jam segini, pulang jam 9 paling.” Jawab Erik yang melihat jam dinding masih pukul setengah 7.
“ya lo tungguin lah, perlu dikasih hukuman nih senior kek gini.” Ujar Kak Hany duduk menyilang sambil melipat tangan didada.
Dengan terpaksa Erik mengambil kunci motor ninjanya dan berjalan keluar.
(Pak Syukur adalah saudara sekampung mereka yang tinggal di Jakarta juga.)
…….
Agung menundukkan kepala menunjukkan rasa bersalahnya.
“KENAPA LO? NGERASA BERSALAH? PENGEN NANGIS?LO TETEP HARUS DIHUKUM BIAR KAPOK.”
“iya ka.” Jawab Agung lemas.
“LO SIKAT TUH KAMAR MANDI SAMPE BERSIH!!”
Agung mengangguk dan bersiap berdiri.
“HEH!! ENTAR DULU”
Agung duduk kembali.
“BIAR MAKIN KAPOK GUE MAU VIDEOIN LO, LO BUKA CELANA SAMA BAJU LO TERUS LO SIKAT!!” perintah Kak Hany dengan muka tegasnya.
“jangan divideoin ka, malu.” Pinta Agung dengan muka memelas.
“LO PILIH ITU APA GUE PANGGIL WARGA!”
Pemuda itu terdiam lalu melepaskan celana serta bajunya dan berdiri dengan wajah yang nyolot tanda kalo Agung kesal dengan Kak Hany. Kemudian Agung berjalan kekamar mandi dan mengambil sikat untuk disikat lantai.
“srokkkkkk srokkkkkk.” Agung terlihat butiran butiran keringat menempel di wajahnya, diusaplah dengan tangan sambil tetap menyikat.
Ka Hany datang dan mengvideokan aktivitas Agung sambil berujar, “nihhh orang yang ngentt di rumah orang. Aduin apa gimana yak.” Ledek Kak Hany sambil tertawa.
Agung menarik nafas agar menerima keadaan.
Saat asik menyikat suara Kak Hany tak terdengar lagi.
“emmm jam 7 lewat lagi.” Ucap Agung melirik jam tangannya.
Dia duduk untuk beristirahat.
“HEH ENAK LO DUDUK.” Teriak Kak Hany yang muncul dari pintu.
Sejenak Agung mengambil sikat kembali dan lanjut.
Suara Kak Hany tak terdengar, Agung coba menoleh kebelakang arah pintu tapi Kak Hany masih berdiri disana. Agung kaget, pandangan Agung seketika turun ke arah dada Kak Hany. Dimana Kak Hany yang memakai kemeja hitam panjang terbuka kancingnya 3 memperlihatkan gundukan toketnya sedikit.
“HEH!! LIAT APA LO? HA?SANGE? NGACENG?” tutur Kak Hany dengan melipat tangannya.
“eng..ga ka…” Agung tampak gugup dan melanjutkan aktivitas nya.
Beberapa menit kemudian Agung pikir Kak Hany sudah tak ada, dia menoleh lagi kearah pintu dan sangat kaget melihat Kak Hany yang hanya memakai bra krem dengan bawahan masih rok.
Agung menelan ludah melihat ukuran tokett kak Hany yang gede.
“KENAPA?NGACENG?” Kak Hany bersikap sinis.
Agung tak menjawab hanya membuang muka kembali.
“yaudah kalo gak ngaceng, gue tutup lagi.” Tutur Kak Hany yang membuat Agung menoleh kembali.
“jangan ka.” tutur Agung, Kak Hany yang memegang kemejanya berkata, “kenapa?”
“Terserah deh ka gue nyikat wc sampe jam berapa. Tapi boleh gak gue nyikat nya sambil ngeliat ke arah Kaka.” Agung berkata sambil berjongkok dengan pedenya.
Ka lia tak menjawab hanya menyenderkan badannya ke pintu dan membuang kemejanya kebawah.
Agung lanjut menyikat sambil melihat Kak Hany yang memakai bh, beberapa kali tampak Agung gelisah dan menelan ludah. Dan tak terasa kontol Agung ngaceng membuatnya resah, karena kepala kontolnya keluar dari sempaknya. Dia pun membenarkan sempaknya agar posisi kontolnya tak terlihat.
“Udah?udah ngaceng?ha?” Kak Hany berujar dengan wajah serius.
Agung tak menjawab dan memilih menunduk sambil tetap menyikat.
Tiba tiba Kak Hany masuk kamar mandi dan “berdiri Lo!”
Agung berdiri perlahan.
Ka Hany memandangi wajah Agung sambil tangannya masuk kedalam sempak Agung meremas kntol Agung.
“Kaaa.” Lenguh Agung.
“diem.” Ucap Kak Hany.
Agung berinisiatif mendekatkan tangannya ke toket kanan Kak Hany yang masih terbungkus bra.
(Ka Hany tingginya mungkin 165 cm, dengan body-nya seperti artis boyen tapi kulit Kak Hany putih.)
“heh mau ngapain lo?” suara Kak Hany mengangetkan Agung dan menarik tangannya menjauh.
“maaf ka.” Agung menatap keatas kontolnya masih digenggam dan dikocok oleh Kak Hany.
“kalo mau megang, ngomong dong.” Ujar Kak Hany dengan wajah datarnya.
Agung menatap wajah ka Hany, dan “kaaa aku boleh membuka bra Kaka gak dan memainkan tangan ku di p******a Kaka?” Agung berkata sopan sambil tersenyum.
“emmm boleh gak ya? Emmm boleh deh.” Balas ka lia.
Agung pun langsung membuka bh kak lia dari belakang dan sepasang t***t berukuran 36 b dengan p****g coklat yang gede terlihat.
Agung meremas dan memainkan p****g ka Hany dengan pelan sekali.
Tarikan nafas ka Hany dalam sekali dan panjang.
“kenapa ka? Sange?” tanya Agung balik menggoda.
Ka Hany diamm dan terus mengocok k****l Agung dengan tangan yang lain.
“aku boleh mengisap p****g Kaka gak?” tanya Agung kembali.
“ehhmmm bo..Leh” suara ka Hany pelan dan terserak, nafasnya juga sudah terdengar tak beraturan.
Agung memilin p****g kak lia dengan lembut dan melirik ke wajah ka lia. Ka Hany masih dengan muka datarnya dan menurunkan sempak Agung tetap mengocok kontolnya.
Saat asik mengisap p****g sebelah kiri sedangkan tangan kanan Agung memilin p****g kanan kak lia yang Sudah keras sekali. Tangan ka lia tampaak sudah tak mengocok k****l Agung lagi, “ohhhhhh plisssssss terusssss maininnn tokeeeet gueee deeeee.” Racau ka lia menatap keatas dengan mata tertutup.
Agung melepaskan, Kak Hany membuka matanya. “ka aku boleh gak buka rok dan cd Kaka terus ma….” Ujar Agung yang langsung disumpal oleh bibir Kak Hany.
Mereka pun beradu ciuman, “sleerprpp ….slerrppppp.” tampak Agung melumat bibir ka lia dengan buas sambil tangan membuka rok ka Hany dan diloloskan kebawah.
Ka Hany juga menjamah kntol Agung sambil mengocoknya.
Agung melepaskan bibirnya, “jangaann dikocok muluuu kaa nanti cepeet keluar.” Lalu Agung menunduk dan membuka CD ka Hany.
Terlihat mmek ka Hany dengan bulu kemaluan yang rimbun.
Ka Hany mendorong kepala Agung ke memeknya. Agung lalu menjilati mmek ka Hany, “ohhhhhhhh uhhhhhhhhh …..”
“eiimmmmmmm.. ohhh… Jilat… Terusss….. Sayang…….” Teriak Kak Hany yang tak kuat klitorisnya dijilat Agung.
Agung melepaskan dan memasukkan dua jarinya ke memek ka Hany lalu dikocok cepet.
“deeeee….. Emphhh……..ka…kaa….ohhhhh…”
Tiba tiba cairan keluar dari memek Kak Hany mengenai wajah Agung.
“Banyak banget ka ngencritnyaaa.”
Ka Hany yang berkeringat pun menarik badan Agung keatas dan menyepong kntol Agung dengan cepett…
“Mannnteeppp ka…..”
“Slurppppp….. Slurp……….” suara mulut Kak Hany mengocok kontol Agung dan menjilat dengan lidahnya .
“plukkk….. Slurrppppp..” Kak Hany masih mengulum kontol Agung
Beberapa saat kemudian. Agung juga menyemburkan spermanya.
Ka Hany menengok keluar seperti melihat sesuatu.
“Kenapa ka?” tanya Agung yang ingin memakai sempaknya.
“Jangan dipake dulu, ayo kekamar masih jam 8 lewat.” Ka Hany mengambil pakaiannya dan menggandeng tangan Agung ke kamarnya.
…….
Mereka pun lanjut satu ronde lagi dan duduk disofa kembali menunggu Pak Syukur dan Erik kembali. Tapi yang kembali hanya Riki aja.
“mana pak syukur?” tanya kakanya.
“gabisa ka, katanya mau keluar kota malem ini.” Jawab Erik yang duduk disamping Agung.
“yaudah, lo pulang deh! Gue eneg ngeliat muka lo.” Timpal Kak Hany kembali ngomel ke Agung.
Agung dengan wajah menunduk salim dan minta maaf atas perbuatannya dengan Naomi.
Lalu memacu motor satrianya meninggalkan rumah fiki.
================================================================
Join Telegram
