DUA CINTA, SATU ATAP – Stwjilbab Cerita Seks

Tama duduk membatu di sofa. Kepala menunduk, jari-jarinya sibuk menggaruk benang yang terlepas dari lutut celana jinsnya. Pertemuan keluarga kali ini adalah skenario terburuk yang bisa ia bayangkan.

Siapa yang berharap ibunya, yang baru satu tahun menjanda, sudah berencana menikah lagi?

Di usianya yang sembilan belas tahun, ini terasa absurd. Bayangan ayahnya belum benar-benar luntur dari benaknya, tapi kini ia dipaksa menerima sosok laki-laki baru. Laki-laki yang sejak tadi duduk mesra, terlalu dekat dengan ibunya, mencuri pandang dan mesam-mesem seolah mereka dua remaja kasmaran yang tidak tahu tempat.

Di seberang ruangan, Tante Ratna—ibunya—tertawa pelan. Di sebelahnya, pria yang akan segera menjadi ayah tirinya, Om Suwandi, menimpali dengan antusias. Mereka berusaha mencairkan suasana ruang tamu yang kaku dan dingin, namun tawa mereka terdengar sumbang dan menggelikan di telinga Tama.

“Jadi, Tam,” suara berat Om Suwandi memecah lamunannya. “Mami kamu bilang, kamu sedang gap year, ya? Punya rencana mau masuk kuliah jurusan apa?”

Tama hanya bergumam, “Belum tahu, Om.” Ia bahkan tidak mengangkat wajah. Kepalanya penuh dengan skenario reaksi teman-temannya jika mereka tahu ia akan punya bapak tiri. Pasti akan jadi bahan ledekan selama berbulan-bulan.

“Nanti tanya-tanya aja sama Kak Mina, dia udah semester lima di FK,” ujar Om Suwandi bangga.

Mina.

Gadis yang sejak tadi diam bersandar malas di sofa empuk di sebelah ayahnya itu mendongak, kaget namanya disebut. Senyum tipis terukir di wajahnya—sebuah gestur sopan yang jelas dipaksakan.

Tante Ratna, yang duduk di sebelah Tama, menimpali. “Tuh, Tam,” bisiknya sambil menepuk paha Tama. “Beruntung kamu bisa punya kakak pintar kayak Mina. Siapa tahu kamu ketularan rezekinya, masuk FK juga.”

Tama hanya bisa tersenyum kecut. Kakak. Kata itu terasa aneh di lidahnya. Matanya kembali menatap kosong ke karpet bermotif bunga di ujung kakinya yang sedari tadi mengetuk-ngetuk lantai dengan tidak sabar.

Obrolan itu kembali mengalir, namun lebih terasa seperti dialog pribadi antara Om Suwandi dan Tante Ratna. Keduanya jelas sedang dimabuk cinta. Mereka tertawa, saling melempar pandang, dan sesekali berbicara dengan nada rendah yang intim, seolah lupa ada dua orang lain di ruangan itu yang saling mengamati dengan canggung.

Di tengah riuh rendah kemesraan mereka, Tama tiba-tiba sadar: statusnya sebagai “anak tunggal” akan segera berakhir. Posisinya akan digeser oleh gadis kaku yang akan menjadi kakak tirinya itu.

Tama memberanikan diri melirik ke seberang ruangan. Mina sedang menatap cangkir tehnya, memegangnya dengan kedua tangan.

Seolah bisa merasakan tatapan Tama, mata Mina terangkat.

Pandangan mereka terkunci—hanya sedetik, namun sarat akan kecanggungan murni antara dua jiwa yang merasa asing satu sama lain.

Mina adalah yang pertama membuang muka, pura-pura tertarik pada lukisan pemandangan di dinding. Tama, yang merasa tertangkap basah, segera mengalihkan pandangannya ke piring kue di meja, meraih satu nastar dan memakannya tanpa benar-benar merasakan rasanya.

“Ah, iya, Mas,” suara Ratna kembali terdengar, “Nanti untuk kamar anak-anak…”

Tama mengunyah kuenya dengan cepat, berharap pertemuan ini segera berakhir.

Dua minggu kemudian, harapan Tama tidak terkabul. Pertemuan itu berakhir, tapi realitas baru dimulai.

Tama kini berdiri di depan kamar barunya. Mereka pindah ke rumah Om Suwandi—wilayah kekuasaan Mina. Rumah itu lebih besar, lebih rapi, dan terasa steril. Kamar Tama terletak persis di seberang kamar Mina, hanya dipisahkan oleh lorong selebar dua meter.

“Ini kamar lu, Tam,” kata Mina, seraya membuka gorden kecil di depan meja belajar.

“Lah, pink banget nih temboknya, Kak? Yang bener aja!” kata Tama, memandangi dinding kamar yang dilapisi cat magenta cerah.

“Ya mau gimana, cuma kamar ini yang kosong. Lu mau tidur di gudang aja?” kata Mina.

Tama menghela napas dan menjatuhkan pantatnya di kasur yang belum dipasangi sprei. “Yaudah lah, yang penting bisa tidur,” ujarnya pasrah.

“Ih, jangan langsung goleran gitu, Tam! Pasang dulu spreinya, itu kan debu,” tegur Mina sambil berjalan ke arah lemari. Ia membuka pintunya dan sedikit berjinjit ke bagian atas, di mana tumpukan sprei terlipat rapi bersama selimut dan bed cover.

Saat tubuhnya yang ramping dan kurus itu meregang, kaus yang dipakai Mina sedikit terangkat di bagian pinggang dan perutnya.

Tama yang melihat pemandangan itu dari kasur di belakangnya, sedikit terkejut. Matanya terkunci pada kulit halus milik kakak tirinya yang terpampang menggoda di depannya.

Pemandangan singkat itu sedikit banyak membuat darahnya berdesir, hingga ia sampai harus menelan ludah menahan gejolak di sela paha nya yang tiba tiba mengeras.

“Lu jangan diam aja, bantuin napa!” seru Mina yang terlihat sedikit kesusahan karena tumpukan kain itu lumayan berat.

Tama yang tersadar dari lamunan ‘jorok’-nya seketika gugup. Ia cepat-cepat berdiri. “Eh, iya Kak, bentar, gue bantuin!”

Tama bangkit dari kasur dan melangkah mendekati Mina yang masih kesusahan mengambil bed cover berat dari tumpukan paling atas.

Tubuhnya kini persis berada di belakang punggung Mina. Tama merentangkan tangan, melewati kepala kakaknya itu untuk membantu menahan lipatan di bagian bawah. Tanpa sadar, bagian depan tubuhnya menempel persis ke punggung Mina.

Sebuah getaran aneh menjalar di tengkuknya. Kehangatan lembut dan aroma sampo dari rambut Mina yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya, membuat gerakan Tama membeku. Mereka hanya terdiam sesaat dalam posisi menempel yang canggung, hanya dibatasi oleh tipisnya kaus Mina.

“Lu jangan nempel-nempel bisa nggak sih?” Mina mendesis, suaranya sedikit jengah tapi terdengar terganggu. Sontak tubuhnya melorot meloloskan diri dari posisi awkward itu, berbalik cepat sehingga wajahnya hampir beradu dengan wajah Tama. Pipinya memerah samar. “Eh, Tam, lu jangan aneh-aneh deh!” tambahnya, matanya menghindari tatapan langsung adik tirinya yang tiba-tiba terlihat jauh lebih tinggi dari yang dia ingat.

Tama agak sedikit beringsut mundur, sempat kikuk dan malu. “Ya maap lah Kak, kan lu yang minta gue bantuin lu tadi,” ujarnya membela diri, tangan gemetar sedikit saat menyeka keringat tipis di pelipis. Napasnya terasa pendek. “Udah sini gue aja lah yang nurunin spreinya,” lanjutnya acuh tanpa memandang wajah Mina yang masih memerah di sampingnya. Dia melangkah maju lagi, fokus pada tumpukan kain di atas lemari, mencoba mengabaikan ekspresi keberatan di wajah Mina yang masih memandang Tama dengan sebal.

“Yaudah, lu bersihin sendiri ya kamarnya,” ujar Mina cepat sambil memalingkan muka dengan gerakan hampir terkesan kasar. Napasnya sedikit tersengal. “Kalau butuh sesuatu, gue ada di kamar,” tambahnya sambil menunjuk ke arah pintu persis di seberang kamar Tama. Suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya, hampir seperti mencoba menutupi sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. Dia tidak menunggu jawaban lagi, langsung berbalik dan melangkah cepat keluar kamar tanpa melihat ke belakang.

BACA JUGA : Mimpi Buruk di Kampus Part 1 – STWJILBAB

Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring mendominasi ruang makan sempit itu. Om Wandi, pria bertubuh gempal yang kini menjadi ayah tirinya, sudah sibuk mengunyah Nasi goreng buatan Tante Ratna—ibu kandung Tama—yang tampaknya sukses memanjakan lidahnya.

Di seberang meja, Mina terlihat sibuk dengan ponselnya. Jemarinya lincah mengetik entah apa disana, layar ponsel itu menyala terang, membiaskan cahaya kebiruan ke wajahnya yang datar. Ia seolah membangun dunianya sendiri, terisolasi dari tiga orang lain di meja makan yang sama.

Tante Ratna sendiri masih berjalan mondar-mandir dari dapur kecil ke meja makan. Ia meletakkan sepiring telur ceplok, lalu kembali lagi membawakan satu teko besar teh manis dingin dari dalam kulkas.

“Ayo, Tam, dimakan. Nanti keburu dingin,” kata Tante Ratna, menuangkan teh ke gelas putranya.

Tama hanya mengangguk pelan, tangannya terulur mengambil sendok. Ia memandang situasi di depannya sebagai sesuatu yang absurd. Ini adalah hal yang sangat jarang terjadi di hidupnya.

Dulu, sewaktu ayah kandungnya masih hidup, mereka jarang sekali bisa makan malam keluarga seperti ini. Ayahnya yang bekerja sebagai sales representative sebuah perusahaan onderdil mobil, membuat waktu bersama keluarga hampir tidak pernah ia rasakan. Seringkali, ayahnya baru pulang larut malam saat Tama sudah terlelap, dan berangkat lagi sebelum matahari terbit. Meja makan di rumah lamanya lebih sering sepi.

Kini, ia duduk di sini. Di rumah asing, dengan kamar bercat pink, dan di meja makan yang penuh. Penuh dengan orang-orang yang terasa asing.

“Gimana, Mas? Enak nasi gorengnya?” tanya Ratna pada suami barunya, suaranya terdengar sedikit ragu, mencari validasi.

“Hm, enak, Yang. Pas rasanya,” jawab Wandi dengan mulut yang masih penuh, matanya tak beralih dari piring.

Ratna tersenyum lega. Matanya kemudian beralih pada Mina. “Mina, ayo dimakan nasinya. HP-nya ditaruh dulu, dong. Nggak baik makan sambil main HP.”

Mina mendengus pelan, tapi tidak membantah. Dengan gerakan malas, ia meletakkan ponselnya di samping piring, layarnya menghadap ke bawah. Tapi ia tidak langsung makan, hanya mengaduk-aduk nasi goreng di piringnya tanpa minat.

Pandangan Tama beralih pada Mina. Gadis itu kini terlihat sangat berbeda dari sosoknya beberapa jam lalu di kamar. Wajah yang tadi memerah samar karena posisi canggung mereka, kini kembali dingin dan tak acuh.

Keheningan kembali menyelimuti meja. Hanya suara kunyahan Om Wandi dan es batu yang beradu di dalam teko.

Tama akhirnya menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Rasanya… biasa saja. Tapi kehangatan yang menjalar di perutnya terasa nyata. Ini adalah makan malam keluarga pertamanya setelah sekian lama, meski terasa sangat canggung dan palsu. Ia merasa seperti seorang aktor yang baru saja naik panggung tanpa sempat membaca naskahnya.

Piring-piring kotor telah diangkut ke dapur. Suara program berita malam dari televisi mengisi ruang keluarga yang tidak seberapa luas itu.

Om Wandi duduk bersandar di sofa, dan tangannya yang ‘tidak tahu malu’ sudah melingkar di bahu Tante Ratna, mengelus-elus lengan atas wanita itu dengan gerakan posesif. Tante Ratna, yang duduk di sebelahnya, tampak menikmati perlakuan mesra itu. Ia bersandar nyaman ke tubuh suami barunya, senyum tipis terulas di bibirnya saat mereka menonton televisi.

Tama, yang duduk di sofa tunggal di seberang mereka, hampir tersedak ludahnya sendiri melihat momen kemesraan itu. Pemandangan ibunya yang bermanja-manja dengan pria lain masih terasa ganjil untuknya.

Namun, Tama buru-buru memaklumi. Semasa hidup ayahnya, ibunya terbiasa ditinggal bekerja keluar kota. Ayahnya hanya pulang beberapa hari dalam sebulan. Dia sadar betul kalau ibunya pasti kesepian dan jarang mendapatkan belaian sayang dari seorang suami. Jadi, Tama memutuskan untuk memberi ruang bagi ibunya menikmati hari-hari romantis di pernikahan barunya. Ia tidak mau jadi pengganggu.

Tama mengalihkan pandangannya. Matanya otomatis mencari sosok lain di ruangan itu: Mina.

Gadis itu duduk di karpet, bersandar di kaki sofa yang sama dengan yang diduduki Tama, namun membelakanginya. Wajahnya diterangi layar ponsel. Ekspresinya tampak agak jengkel. Berbeda dengan keintiman orang tua mereka, Mina terlihat tegang. Ibu jarinya mengetik dengan ritme yang cepat dan berlebihan, seolah sedang melampiaskan kekesalan pada layar ponselnya. Suara ketukan di layar itu terdengar tajam dan agresif di keheningan ruang.

Tama memperhatikannya selama beberapa detik, bertanya-tanya apa yang membuat gadis itu kesal. Apa karena pemandangan mesra ayahnya dengan Tante Ratna? Atau sesuatu di ponselnya?

Seakan bisa merasakan ada yang mengawasinya, Mina tiba-tiba berhenti mengetik dan mendongak dari layarnya, kepalanya berputar sedikit ke arah Tama.

Mata mereka bertemu.

Itu adalah cara saling pandang yang paling kikuk yang terjadi diantara sepasang kakak – adik yang terjebak dibawah satu atap yang sama.

Tama merasakan panas menjalar di lehernya. Dengan gerakan cepat yang kaku, Tama segera mengalihkan pandangannya lurus ke depan, ke arah televisi.

Presenter berita sedang membacakan sesuatu tentang pasar saham, tapi Tama sama sekali tidak mencernanya. Ia hanya menatap layar, pura-pura fokus, berharap debaran di dadanya yang tiba-tiba muncul segera mereda. Di sudut matanya, ia tahu Mina juga sudah kembali menunduk menatap ponselnya.

Malam akhirnya tiba, suasana asing rumah itu membuat jiwanya terasa kesepian di rumah barunya. Tama sudah merebahkan tubuhnya di kasur kecil di kamar itu, kamar yang tadi siang ditunjukkan setengah hati oleh Mina, kakak tiri barunya.

Sprei yang tadi siang ia pasang dengan asal-asalan, terasa kaku dan kusut di bawah punggungnya yang basah berkeringat.

Matanya menatap langit-langit yang tinggi, membiarkan cahaya temaram dari satu-satunya lampu downlight di plafon menerpa wajahnya. Sejujurnya, dia masih sulit beradaptasi dengan personal-space barunya ini.

Masalahnya bukan lagi karena cat kamarnya yang berwarna pink menyakitkan mata. Dalam cahaya remang ini, warna magenta itu sedikit meredup, tidak lagi se-mencolok tadi siang. Bukan juga karena lampu downlight mewah seperti di kamar hotel—yang membuat pencahayaan menjadi sedikit remang; menurutnya malah suasana redup itu sebenarnya cukup nyaman untuk tidur.

Masalahnya adalah situasi hidupnya telah berubah seratus delapan puluh derajat.

Anehnya, dia tidak merindukan kamar lusuh lamanya di rumah peninggalan ayahnya. Tidak sama sekali. Dia tidak rindu pada dinding yang lembap, atap asbes yang membuat kamar terasa seperti oven di siang hari, atau suara tikus yang berlarian di plafon.

Justru sebaliknya. Rumah baru ini—rumah Om Wandi—membuat Tama mencicipi bagaimana rasanya hidup sebagai golongan menengah ke atas. Sebuah standar yang tidak pernah ia bayangkan akan ia tinggali seumur hidupnya.

Ini adalah sebuah kontras yang menusuk, jika dibandingkan dengan kondisi hidupnya sebelum ibunya menikah dengan bapak tirinya. Uang yang didapat hari ini, hanya cukup untuk esok hari, boro-boro memikirkan masa depan.

Sekarang, dia tinggal di rumah permanen yang rapi, dengan perabotan lengkap, AC di kamarnya (meski ia belum menyalakannya), dan makan malam yang selalu tersedia di meja.

Perubahan drastis inilah yang membuatnya gelisah. Dia merasa seperti tamu yang menginap terlalu lama, bukan bagian dari keluarga. Dia belum menemukan pijakannya di dunia yang serba nyaman namun terasa membingungkan ini.

Tama masih terjaga, matanya menatap kosong ke dinding di hadapannya. Suara-suara dari luar kamar sudah lama digantikan oleh kesenyapan malam yang khas di lingkungan rumah barunya.

Namun, tak lama kemudian, telinganya samar-samar menangkap suara dari balik dinding kamarnya. Kamar Om Wandi dan ibunya.

Awalnya tidak terlalu jelas, hanya seperti gumaman tertahan. Tapi perlahan, suara itu makin kentara. Desahan rendah yang diselingi derit ritmis dipan kayu itu makin jelas dan makin terngiang di telinganya.

Tama tidak bergeser, juga tidak merasa kikuk. Ia malah tersenyum geli dalam gelap.

“Buset deh, Mah, mentang-mentang baru kawin, semangat bener bikin adeknya, wkwkwk,” pikirnya, geli sendiri membayangkan ibunya sedang ‘asik-asiknya’ bercinta dengan ayah tirinya.

Bagi Tama, ini hal yang biasa saja. Lumrah. Sesuatu yang sudah ia dengar dan rasakan sehari-hari sejak lama. Dinding tembok rumah lamanya yang hanya dilapis tipis gipsum, membuat sesi-sesi malam ibu dan almarhum ayahnya dulu menjadi suara yang rutin menemani tidurnya, berselang dua-tiga malam setiap minggu. Apalagi kalau ayahnya pas libur kerja, dia bisa hampir setiap malam mendengar derauan nafsu dan bisikan-bisikan dari kamar orang tuanya.

Dia menarik napas panjang, matanya masih menatap langit-langit pink yang kini temaram. Suara di balik dinding sedikit meninggi, lalu mereda lagi.

“Awas encok lho pinggangnya,” guraunya dalam hati, sebelum akhirnya membalikkan badan membelakangi dinding, mencoba mencari posisi untuk benar-benar tidur.

BACA JUGA : Mimpi Buruk di Kampus Part 2 – STWJILBAB

Tepat saat kesadarannya mulai memudar, sebuah ketukan lembut di pintu kamarnya membuatnya terlonjak.

“Tam, lu udah tidur belom?” Suara Mina terdengar tersekat dari balik kayu lapis tipis.

Tama menghela napas. “Belom Kak, masuk aja,” jawabnya tanpa bangun, suaranya serak karena hampir tertidur.

Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi engsel berderit yang membuatnya mengerutkan kening. Dalam cahaya remang lampu koridor, siluet Mina muncul—rambutnya diikat kuncir agak berantakan, mengenakan kaus oblong longgar dan celana pendek yang nyaris tak terlihat di kegelapan.

“Lu kenapa belom tidur, Kak?” Tama menggeser tubuhnya di atas kasur yang berderak, membuat ruang kosong di sampingnya.

Mina, sambil memegang lengannya seperti memeluk dirinya sendiri, duduk dengan menghela napas berat. Kasur miring di bawah bobotnya. “Gue nggak bisa tidur, Tam. Nyokap lu berisik banget itu,” desisnya pendek, jari telunjuknya menusuk udara ke arah dinding kamar orang tua mereka.

Suara gemeretak ritmis masih terdengar samar-samar, kini diselingi teriakan perempuan tertahan yang membuat Mina mengatupkan rahang.

“Ya bokap lu juga hard-core banget sih, Kak, wkwkwk,” balasnya ringan, sama sekali tidak terganggu. “Udah setengah jam itu nyokap gue digenjot nggak ada jeda. Nggak pada pegel apa tuh pinggang, ya?”

Mata Mina awalnya membelalak kaget mendengar kata-kata vulgar yang meluncur begitu saja dari mulut Tama. Ada jeda sesaat di mana ia hanya menatap adik tirinya itu dengan tatapan tak percaya.

Namun, absurditas situasi itu—dan komentar blak-blakan Tama—akhirnya membuatnya ikut cengengesan juga. Tawa kecil yang tertahan lolos dari bibirnya. Dia kaget kalau adik tirinya ini ternyata bisa ceplas-ceplos juga, tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Dari tadi siang, Tama lebih banyak diam dan terlihat kikuk, tapi ternyata cowok itu punya sisi yang benar-benar di luar dugaannya.

Tawa Mina akhirnya mereda, berganti helaan napas. “Ya, namanya juga pengantin baru sih ya. Masih anget-angetnya,” katanya, nadanya kini lebih pasrah.

Dia melirik Tama. “Lu juga gitu kan sama cewek lu, Tam? Sama aja, namanya laki mah.” Sambil berkata begitu, tangannya mulai membereskan sprei kusut di area kasur di sampingnya, seolah bersiap hendak merebahkan tubuhnya di situ.

Tama tertawa lagi, kali ini sedikit kering. “Kagak. Gue nggak pernah, Kak.” Dia menggeser tubuhnya sedikit, mengambil salah satu bantalnya dan menyodorkannya pada Mina. “Boro-boro gituan, pacar aja nggak punya, wkwkwk.”

Gerakan Mina yang sedang asyik meluruskan kerutan sprei mendadak terhenti. Dia diam sejenak, lalu memandang Tama, matanya sedikit menyipit dalam keremangan.

“Seriusan lu?” tanyanya, suaranya pelan. “Nggak pernah?”

Ada ekspresi bertanya yang polos di wajahnya, seolah tidak yakin apakah Tama sedang bercanda atau jujur.

“Dua rius. Gue mah orangnya polos, Kak, wkwkwk,” kata Tama dengan nada polos dan tanpa beban. “Paling-paling… gue cuma nonton doang di hape.”

Tubuhnya kini tidur menyamping, menghadap Mina yang masih duduk di tepian kasur.

Belum sempat mina memproses kalimat terakhir dari adik tirinya itu, Tama melanjutkan, masih dengan nada ringan yang sama, “Lu sendiri gimana? Udah sering ya gituan sama cowok lu?”

Pertanyaan yang dilontarkan tanpa beban itu sukses membuat Mina tersedak ludahnya sendiri.

“Eh?!” Pipinya langsung terasa panas, jauh lebih panas dibanding insiden di depan lemari tadi siang. “Apaan sih lu nanya-nanya gitu?” desisnya, nadanya tiba-tiba jadi defensif dan sedikit lebih tinggi. Ia spontan memukul lengan Tama pelan. “Ngaco lu!”

Mina buru-buru memalingkan wajah, menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka, berusaha menyembunyikan rona merah yang ia yakin kini menjalari pipinya. “Nggak jelas banget,” gerutunya pelan.

“Lah, kan lu yang tadi nanya duluan. Kenapa sewot sih?” kata Tama dengan cuek. Tangannya kini ikut bergerak merapikan sprei yang kusut di bagian yang ia tiduri, seolah-olah pertanyaan tadi sama sekali bukan masalah besar. “Kalo nggak pernah, ya bilang aja.”

Mina bingung harus merespon apa. Pertanyaan balik yang polos itu menempatkannya di posisi yang serba salah.

Kalau bilang belum, gengsi. Dia tidak mau terlihat sepolos itu di depan adik tirinya yang baru dikenalnya.

Tapi kalau bilang sudah… membayangkannya saja membuat pipinya kembali panas.

Apalagi jika Tama—yang tadi dengan santainya mengaku polos—malah nekat bertanya macam-macam. Dia malah tidak tahu harus menjawab apa nanti.

Jadi, dia memustuskan untuk diam saja. Tangannya kembali bergerak merapikan sprei, menarik-narik kain itu dengan gerakan yang sedikit lebih kaku dari sebelumnya, pura-pura fokus pada tugas sepele itu.

BACA JUGA : Hipnotis Sekolah

Tangan mereka, yang sama-sama bergerak tanpa arah di atas kain sprei kusut, tiba-tiba bertemu.

Telapak tangan Mina yang sedikit lebih dingin mendarat persis di atas punggung tangan Tama yang terasa hangat.

Sontak saja tangan keduanya membeku dalam posisi yang canggung.

Waktu seolah berhenti sepersekian detik.  bulu kuduk Mina merinding. Sebuah getaran aneh, seperti sengatan listrik statis yang pelan, menjalar dari titik sentuhan itu, naik ke lengannya, dan membuat tengkuknya kaku.

Mina menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Dia bisa merasakan tekstur kulit Tama yang sedikit kasar di bawah telapak tangannya.

Dengan gerakan refleks yang terlalu cepat, Mina menarik tangannya seolah baru saja menyentuh bara api.

Atmosfer di kamar itu kini terasa sepuluh kali lebih sesak dan canggung dari sebelumnya.

“Eh… sori,” desisnya, suaranya pelan dan serak. Dia buru-buru mencoba menarik tangannya untuk disembunyikan di bawah pahanya, seolah-olah tangan itu telah berkhianat pada pemiliknya.

Tapi tangan Tama tiba-tiba sigap menangkap dan menahan tangannya sebelum Mina berhasil menariknya jauh.

Mina, yang kaget oleh gerakan cepat itu, memandang Tama dengan ekspresi heran, matanya sedikit melebar. Jantungnya berdebar. Dia tidak menyangka Tama akan menahannya.

Tama tidak balas menatap wajahnya. Pandangannya justru terkunci pada tangan Mina yang ada dalam genggamannya. Jari-jarinya yang sedikit lebih kasar terasa kontras dengan kulit Mina.

“Tangan lu halus banget, Kak,” katanya, suaranya pelan, nadanya jujur dan polos. “Gue baru kali ini megang tangan cewek sebagus ini.”

Suara persetubuhan orang tua mereka menjadi suara latar belakang yang konstan. Alih-alih membuat mereka semakin canggung, desahan Om Wandi dan Tante Ratna dengan derit dipan yang ritmis itu seolah memicu getaran tersendiri. Atmosfer di dalam kamar pink itu berubah total; udara yang tadi hanya terasa awkward kini terasa lebih berat, lebih pekat, dan entah kenapa, lebih intim.

Mina kini hanya diam, membiarkan tangannya tetap dalam genggaman Tama.

Dia tidak menariknya kembali. Kehangatan dari tangan Tama yang sedikit kasar itu menjalar ke lengannya. Sebuah perasaan campur aduk yang aneh—kaget, sedikit geli, bingung, tapi juga berdebar—membuatnya bingung harus merespons apa.

Dia tidak tahu harus mengartikan ini sebagai sentuhan jenis apa. Sentuhan polos seorang adik tiri yang jujur?

Atau sesuatu yang lain?

Mina hanya bisa menatap genggaman tangan mereka dalam diam, sementara suara ibunya tirinya kembali terdengar tertahan dari balik dinding.

Insting Tama mengambil alih.

Pikiran rasionalnya yang polos dan cengengesan tadi seolah menguap, digantikan oleh gerakan otomatis dari tubuhnya yang kini sudah berada di luar kendalinya.

Genggaman di tangan Mina yang halus itu mengencang.

Dia menarik tangan itu, perlahan namun pasti. Tarikan itu membuat tubuh Mina, yang masih duduk di tepian kasur, kehilangan keseimbangan. Gadis itu terhuyung sedikit ke depan, ke arah Tama yang berbaring miring menghadapnya.

Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter.

Mata Mina melebar kaget, napasnya tertahan di tenggorokan. Dia bisa merasakan napas hangat Tama di kulit wajahnya.

Dalam sepersekian detik yang terasa panjang itu, Tama memajukan wajahnya. Dia mencium lembut bibir Mina yang sedikit terbuka dan basah.

Bibir mereka bertemu. Lembut, hangat, dan ragu-ragu.

Suara dari kamar sebelah seolah lenyap seketika, digantikan oleh debaran jantung Tama yang memukul-mukul di telinganya sendiri. Itu adalah sebuah momen sepersekian detik, sebuah sentuhan tak terduga di tengah kamar pink yang remang, yang akan mengubah segalanya bagi mereka berdua.

Waktu seolah membeku. Saat kesadaran Mina pulih dan ia menyadari bibir itu sudah menempel—mungkin sedikit terlalu lama—kelopak matanya sontak membuka.

Hal pertama yang ia lihat adalah mata Tama, yang juga menatapnya, hanya berjarak beberapa milimeter dari wajahnya sendiri.

Kaget. Panas. Bingung.

Tangannya bergerak refleks. Sebuah ayunan cepat mendarat di pipi Tama, menamparnya. Bukan tamparan keras yang menyakitkan, lebih seperti sentakan kaget yang halus namun tegas.

Plak.

Mina buru-buru menarik diri, menggeser tubuhnya menjauh di atas kasur. Jantungnya berdebar kencang.

“Tam, apa-apaan sih?! Lu udah gila, ya?” hardiknya, napasnya masih tersengal-sengal. Mulutnya terasa aneh, masih berasa sedikit asin dari ludah adiknya yang baru saja bercampur dengan ludahnya.

Tama kaget dengan tamparan itu. Matanya mengerjap, seolah baru saja terbangun dari tidur. Ia memegang pipinya sendiri yang terasa sedikit perih, tidak tahu harus merespon apa. Otaknya masih memproses apa yang baru saja ia lakukan, dan reaksi yang baru saja ia terima.

Melihat ekspresi di wajah adiknya—campuran kaget, bingung, dan sedikit terluka—amarah Mina yang sesaat tadi meledak, kini mereda. Digantikan oleh naluri seorang kakak yang lembut dan menenangkan.

Pandangannya melunak sejenak. Tangannya yang tadi ia pakai untuk menampar, kini ia arahkan kembali ke pipi Tama yang sedikit memerah. Jari-jarinya mengelus lembut kulit itu.

“Sori, sori, Tam. Gue refleks,” kata Mina dengan tulus, suaranya kini jauh lebih pelan.

Adiknya hanya diam, menatapnya dengan ekspresi yang nyaris tidak terbaca.

Dan di momen sesaat itu, saat tangan Mina mengelus pipi lembut adiknya, sentuhan yang dimaksudkan sebagai permintaan maaf itu, malah semakin menariknya lebih jauh.

Dalam sepersekian detik, Tama bergerak maju. Wajahnya kini sudah menempel erat dengan wajah Mina, bibir mereka kembali bertemu, kali ini dengan tuntutan yang jauh lebih mendesak. Hidungnya saling bergesekan, tanpa sedikitpun memberi celah di antara mereka.

Entah siapa yang memulai, tapi ciuman itu dengan cepat berubah panas. Lidah mereka sudah saling berkait, saling menjelajah, berpindah-pindah dari mulut Tama dan kembali ke mulut Mina. Dalam cahaya kamar yang remang, tampak segaris cairan liur yang tipis tertarik di antara gerakan-gerakan bibir mereka yang basah.

BACA JUGA : Mutiara Jembatan Lima

Hampir saja insting naluriah mereka mengambil alih. Pergulatan lidah itu tiba-tiba harus berhenti ketika mendengar suara cklek yang jelas dari kamar sebelah. Pintu kamar orang tua mereka tiba-tiba terbuka.

Mina dan Tama sama-sama melotot.

Keduanya membeku kaku. Mereka saling memandang ngeri, napas tertahan di dada. Bibir mereka masih menempel—basah dan hangat—saat pintu kamar Tama tiba-tiba diketuk dari luar.

Tok! Tok! Tok!

“Tam? Kamu belum tidur, Nak?”

Suara ibunya, Tante Ratna, yang memanggil namanya dari balik pintu tipis itu terdengar seperti sebuah alarm kebakaran yang berdering kencang.

Kepanikan murni melumpuhkan mereka. Mina dan Tama sama-sama bingung harus berbuat apa, masih membeku dalam posisi yang terlalu dekat untuk disebut wajar, dengan suara ibu Tama menunggu jawaban di luar.

Hanya butuh sepersekian detik. Sebelum Tama sempat menjawab panggilan ibunya, kenop pintu itu berputar dan pintu terbuka.

Tante Ratna melangkah masuk ke dalam kamar, wajahnya sedikit mengantuk. Matanya menyipit dalam keremangan, mencoba memfokuskan pandangan pada dua sosok di dalam kamar.

Ia memandang heran. “Kalian sedang apa?” katanya, suaranya pelan, bingung melihat pemandangan di depannya.

Tiba-tiba saja, Mina sudah duduk di kursi meja belajar di seberang kasur. Entah bagaimana caranya ia bergerak secepat itu.

Ia tersenyum manis ke arah Tante Ratna, meski senyumnya sedikit kaku. “Lagi ngobrol sama Tama, Mah,” katanya, suaranya dibuat setenang mungkin, berusaha keras menahan getaran dan napasnya sendiri yang masih agak memburu.

Tama, yang sejak tadi masih berbaring di kasur, menatap Mina dengan takjub. Dia bersumpah, sedetik yang lalu gadis itu masih menempel padanya. Sekarang dengan ajaibnya, dia sudah duduk rapi di seberang ruangan.

Tama buru-buru memalingkan wajah ke ibunya. Tangannya masih di posisi menggantung di udara, canggung—posisi di mana beberapa detik sebelumnya ia gunakan untuk memegang pipi Mina. Dia memandang wajah ibunya dan Mina bergantian.

“I… iya, Mah. Aku lagi nanya-nanya masalah daftar kuliah,” sambung Tama, suaranya terdengar agak kikuk dan serak.

Tante Ratna menatap kedua anak itu bergantian. Matanya berhenti sejenak pada bibir Mina yang terlihat sedikit bengkak dan basah, lalu beralih pada Tama yang posisinya kaku di atas kasur.

Entah Tante Ratna curiga atau tidak—ekspresinya sulit dibaca dalam cahaya temaram—wanita itu hanya mengangguk pelan. “Oh, yaudah. Jangan malam-malam, besok kan masih ada kegiatan. Mama cuma mau cek aja,” katanya.

Beberapa menit kemudian, setelah percakapan singkat yang terasa kaku, pintu itu sudah tertutup kembali.

Suara langkah kaki Tante Ratna menjauh, lalu terdengar pintu kamarnya ditutup.

Mina dan Tama ditinggalkan sendirian lagi. Keduanya tidak bergerak. Mereka hanya terdiam dalam kamar yang atmosfernya terasa jungkir balik dalam sekejap. Udara yang tadinya panas dan intim, kini terasa dingin oleh adrenalin dan rasa panik karena nyaris ketahuan.

BACA JUGA : Keciduk Tapi Kok …

Keheningan yang mencekam masih menyelimuti kamar itu selama beberapa detik.

Mina masih duduk terpaku di kursi belajar, Tama masih kaku di atas kasur.

Akhirnya, Tama melepaskan napas yang sedari tadi ia tahan dalam paru-parunya yang kembang kempis. “Huuuh…”

Mina memutar kursinya perlahan. Mata mereka bertemu di seberang ruangan yang remang. Sesaat mereka hanya saling tatap, memproses apa yang baru saja terjadi—interupsi mendadak itu.

Lalu, sebuah senyum kecil tersungging di bibir Tama. Mina, melihatnya, tidak bisa menahan diri. Tawa kecil yang tertahan lolos dari bibirnya. Keduanya pun cengengesan, tawa geli yang gugup itu akhirnya melepaskan ketegangan luar biasa yang baru saja terjadi.

“Gila…” bisik Tama sambil tertawa pelan. “Kakk, barusan kita—”

Tama tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.

Mina sudah bangkit dari kursi. Dalam dua langkah cepat, ia kembali ke sisi kasur. Tama mendongak, ekspresi cengengesannya berubah bingung.

Sebelum Tama bisa bertanya, Mina membungkuk, menangkup rahang adiknya dengan satu tangan, dan mencium sekali lagi bibir lembut itu. Ciuman itu singkat, tegas, dan terasa seperti sebuah pernyataan.

Lalu, secepat ia datang, ia menarik diri.

Tanpa memberikan penjelasan apapun, Mina berbalik dan berjalan lurus ke arah pintu. Tangannya sudah memegang kenop.

Ia berhenti sejenak, membuka pintu itu sedikit. Sebelum melangkah keluar dan pintu itu tertutup, Mina memandang wajah adiknya yang masih tertegun di atas kasur.

Matanya menatap lurus ke mata Tama. Ia mengangkat satu jari telunjuknya, menempelkannya ke bibirnya yang baru saja basah.

“Sssstt.”

Lalu pintu itu tertutup dengan pelan, meninggalkan Tama sendirian di kamar pink itu, bingung, berdebar, dan masih bisa merasakan sisa rasa bibir kakaknya dibibirnya.

Siang itu cuacanya cukup panas dan gerah.

Tama berbaring di kasur kecilnya, membaca komik yang ia bawa dari rumahnya yang lama. Halaman-halamannya sudah sedikit lecek dan menguning. Kegiatan itu menjadi kesehariannya, mengingat dia sedang tidak ada aktivitas apapun selepas kelulusan SMA-nya.

Enggan menghubungi teman-temannya yang sebagian besar sudah sibuk pamer foto ospek di kampus favorit, Tama menghabiskan hari-harinya dengan membaca dan melakukan entah apa yang bisa ia lakukan untuk menghabiskan hari di kamar pink itu.

Saat sedang asyik-asyiknya membaca bab yang sudah dibacanya berulang kali—karena sekarang uang jajannya tidak cukup untuk membeli komik baru—Tama dikagetkan dengan pintu kamarnya yang mendadak menjeblak terbuka.

BRAK!

Mina, kakak tirinya, masuk ke kamarnya tanpa ba-bi-bu. Ia nyelonong tanpa basa-basi, seolah itu adalah hal yang wajar dilakukan di rumah itu.

Gadis itu mengenakan kaus tank-top berwarna putih yang pas badan dan celana pendek hot-pants abu-abu favoritnya, rambutnya hitamnya yang halus digerai sedikit berantakan membuat kesan menggoda yang begitu kentara.

Ini adalah interaksi pertama mereka sejak semalam. Jantung Tama berdebar sesaat.

“Tam, nyalain kek AC-nya. Panas bener kamar lu, nih,” katanya. Nadanya santai, seolah ciuman panas semalam tidak pernah terjadi. Matanya menyapu kamar, mencari remote AC.

Tama, yang masih sedikit terlonjak kaget, berusaha terlihat cuek. Ia memaksakan matanya kembali ke halaman komik, meskipun fokusnya sudah buyar. Tangannya terangkat malas, menunjuk ke arah meja belajar.

“Tuh,” katanya singkat, menunjuk remote itu.

Tit. Bunyi AC menyala, diikuti desisan freon yang mulai mendinginkan ruangan.

Belum sempat Tama kembali fokus pada komiknya, Mina tanpa permisi langsung melompat ke arah kasur. Ia mendarat di samping Tama, lalu seenaknya menyandarkan tubuhnya ke bahu adiknya.

Gerakan tiba-tiba itu membuat Tama jengkel. Komik yang sedang dipegangnya jadi terlepas dari tangannya dan jatuh tertelungkup di atas sprei.

“Kakk, lu nggak punya kamar sendiri apa? Ngapain sih siang-siang gini malah nambah sumpek kamar gue,” gerutu Tama, tapi tubuhnya sedikit menyingkir, memberi kakaknya space untuk duduk lebih nyaman.

“Yaelah, judes amat mulut lu,” kata Mina, sama sekali tidak terganggu oleh omelan itu.

“Yaudah, gue balik ke kamar gue lagi deh—” Saat ia pura-pura hendak mengangkat tubuhnya lagi untuk beranjak pergi…

Tangan Tama dengan refleks bergerak cepat menahan lengan Mina, menghentikan gerakannya. Tapi pandangannya masih terpaku pura-pura fokus pada buku komik yang baru ia pungut.

Mina melirik tangan Tama yang menahannya, lalu menatap sisi wajah adiknya. Sebuah senyum jahil tersungging di bibirnya.

Kan.

Dia tidak jadi bangkit. Sebaliknya, ia menyandarkan kepalanya kembali dengan lebih nyaman ke bahu berkeringat adiknya yang menurutnya polos dan lucu itu.

BACA JUGA : Pembantu Ku dan Akhir Yang Indah!

Keheningan yang nyaman—meski sedikit gerah—mengisi kamar itu. Satu-satunya suara adalah desisan pelan dari AC yang baru menghembuskan angin dingin yang kencang dan sesekali gesekan halaman komik di tangan Tama.

Mina, yang bersandar nyaman di bahu Tama, hanya sibuk memainkan ponselnya, scrolling entah apa di layarnya. Tama sendiri masih berpura-pura membaca komiknya, meski matanya lebih sering melirik ke samping.

Entah kapan dimulainya, tiba-tiba saja kepala Tama bergeser. Bibirnya sudah monyong, bergerak pelan ke arah bibir kakaknya, mencari celah untuk mencuri ciuman.

Namun, Mina jauh lebih sigap dari yang ia duga. Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, jarinya bergerak cepat. Jari telunjuk dan ibu jarinya menahan dan menjepit bibir monyong itu, menghentikannya tepat beberapa milimeter dari wajahnya.

“Nyosor terus,” sindirnya, nadanya datar tapi geli.

Tama mengerucutkan bibirnya yang terjepit, mengeluarkan suara tidak jelas.

Mina akhirnya menurunkan ponselnya dan terkekeh pelan. Tapi di dalam hati, sensasi semalam dan kejadian barusan ini terasa berbeda. Dia merasa ini adalah sebuah permainan baru yang menarik. Menguji seberapa jauh si polos ini akan bertindak, dan seberapa sigap dia bisa mengendalikannya.

Tama yang merasa tertangkap basah, jadi malu, kikuk, dan sedikit jengkel. Dia merajuk.

Wajah dan tubuhnya langsung berbalik, memunggungi kakaknya. Dengan napas mendengus, dia membalik dengan kasar halaman komiknya—yang sedari tadi masih tertahan di halaman yang sama.

Mina memandang belakang kepala adiknya itu dengan tersenyum simpul. Pemandangan punggung yang sedang ‘protes’ itu, sedikit banyak membuat perasaan Mina jadi campur aduk.

“Duhhh, cup, cup, cuppp… Ada yang ngambek nih ceritanya,” kata Mina, suaranya terdengar sangat menggoda. Tangannya mencari celah, mencoba mengusap pipi Tama dari belakang.

Tama, yang sudah keburu jengkel, menepis tangan itu asal saja.

Melihat perlawanan dari adiknya, Mina ngga kehabisan akal. Dia malah terkekeh pelan.

“Beneran nih nggak jadi dicium bibirnya?” katanya menggoda, sambil mencondongkan tubuh dan memonyongkan bibirnya ke arah Tama, meskipun adiknya itu masih memunggunginya.

Tama masih tidak bergeming. Tengkuknya tetap kokoh memunggungi Mina.

Mina makin tertawa geli dalam hati. Adiknya ini benar-benar di luar dugaan. Polos, lucu, childish. Dia pikir anak 19 tahun sudah “bandel”, tapi ternyata masih bisa merajuk seperti anak kecil hanya karena gagal nyosor.

Mina tersenyum sedikit. Dia memutuskan untuk memainkan permainan yang sama. Ia kembali mengangkat ponselnya, jemarinya mulai scroll lagi, seakan tidak memperdulikan adiknya yang sedang merajuk itu.

Tidak sampai satu menit. Tama, yang jengkelnya mulai mereda, akhirnya bertanya. Suaranya sedikit teredam karena ia masih dalam posisi memunggungi Mina.

“Kak, kemaren enak nggak cipokannya?”

Alis Mina terangkat. Dia menekan tombol lock di ponselnya, layarnya menjadi hitam. “Kenapa emangnya, Tam?” tanyanya, nada suaranya dibuat santai.

“Yagapapa. Aku nanya aja,” kata Tama, masih keras kepala mempertahankan posisinya.

Mina memutar bola matanya sedikit, meski Tama tidak bisa melihatnya. “Mmm, biasa aja,” katanya.

“Yakin?”

“Iya. Ya ciuman biasa aja,” jawab Mina, sedikit defensif. “Kaya lu belom pernah ciuman aja sih, Tam.”

Hening sejenak. Lalu suara Tama terdengar lagi, singkat dan datar dari balik punggungnya.

“Emang belom.”

Mina terkesiap. Jari-jarinya yang tadi asyik menekan layar ponsel, kini membeku.

“Lah, seriusan nih?” tanyanya, suaranya sedikit lebih tinggi dari yang ia maksud. “Lu belom pernah nyipok cewek, Tam?”

Tama menggeleng pelan dari balik bayangan tubuhnya.

Mina kali ini benar-benar kalah langkah. Dia tidak tahu harus bereaksi apa. Seluruh skenario permainan “menggoda si polos” tadi langsung terasa berbeda.

Jadi… ciuman panas semalam? Ciuman yang ia balas, yang ia nikmati, dan yang ia ulangi sebelum keluar kamar?

Secara nggak langsung, dia sudah mengambil first kiss adiknya sendiri?

Mina menelan ludah, menatap punggung Tama dengan pandangan yang sama sekali berbeda.

Bokep Indo : Malam Tahun Baru di GuestHouse Sama Mantan

Tama yang sekejap berbalik. Wajahnya memandang lurus ke arah Mina, ekspresinya serius, nyaris seperti anak kecil yang meminta diajarkan cara mengikat dasi.

Mina terdiam.

Otaknya yang cerdas, yang terbiasa menghafal ratusan istilah latin kedokteran, mendadak blank. Permintaan itu—yang diucapkan oleh adiknya sendiri, si ABG yang charming—dengan kepolosan yang begitu murni, adalah hal paling gila yang pernah ia dengar.

Dia baru saja mencerna fakta bahwa dia mengambil ciuman pertama adiknya, dan sekarang cowok itu memintanya untuk mengajarinya?

“Hah?” adalah satu-satunya respons yang bisa ia keluarkan. Matanya mengerjap. “Lu… lu ngomong apaan sih, Tam? Ngaco.”

“Ajarin gue laah kakk, pleaase,” ulang Tama, lebih mantap, sama sekali tidak merasa permintaannya aneh. “Lu bilang ciuman gue ‘biasa aja’. Gue nggak mau ciuman gue dibilang ‘biasa aja’ sama cewek nanti. Gue mau yang spektakuler.”

Dia menatap Mina lurus-lurus. “Lu kan pasti udah pengalaman sama cowok lu,” lanjutnya, logikanya berjalan lurus tanpa hambatan. “Kasih tau gue caranya. Teorinya sama prakteknya sekalian.”

Pipi Mina langsung memanas. “Yang bener aja, Tam, masa harus sama gue belajarnya?” desisnya, tapi tidak ada amarah sungguhan dalam suaranya. Yang ada hanya rasa kaget yang murni. “Gue kan statusnya kakak lu, Tam.”

“Kakak tiri, kan,” koreksi Tama cepat, seolah itu menjelaskan segalanya. “Ayolah, Kak. Pelit amat sih gitu doang padahal.”

Mina masih terpaku oleh logika absurd permintaan itu, mulutnya sedikit terbuka, siap melontarkan protes lagi.

Tapi kali ini, Mina tidak sempat berkelit.

Sebelum dia bisa memanggil adiknya “gila” lagi, Tama sudah menafsirkan keheningannya sebagai persetujuan. Dia bergerak maju dengan keyakinan baru. Sekejap saja, seluruh bibir luar Mina sudah dikokop masuk oleh mulut adiknya.

Itu adalah ciuman yang basah, ceroboh, dan sama sekali tidak “spektakuler” dalam artian teknis. Sempat ada rasa geli dan heran di benak Mina. Ini gila. Anak ini benar-benar udah gila.

Tapi rasa kaget itu segera terlupakan. Desakan yang polos namun menuntut itu, kehangatan, dan rasa penasaran yang sama… membuat pertahanannya runtuh. Ketika lidahnya akhirnya ikut bermain, menyambut eksplorasi yang kikuk namun penuh semangat itu, ciuman mereka berubah menjadi dalam dan panas.

Hanya desisan AC yang menjadi latar suara. Sekali lagi, kamar pink itu menjadi saksi sebuah permainan kecil dari dua insan yang saling menemukan dalam takdir yang aneh.

Ciuman itu berlangsung beberapa detik—basah, menuntut, tapi salah arah. Tama terlalu bersemangat, mengulangi teknik “menyodok” yang itu itu aja.

Mina, di tengah kabut gairah yang mulai naik, terpaksa mendorong pelan bahu adiknya, melepaskan tautan bibir mereka. Napasnya tersengal.

“Nggak gitu, cok,” ujarnya terputus-putus, suaranya serak. Dia menyeka sedikit saliva di sudut bibirnya dengan punggung tangannya. “Lidah lu jangan nyodok-nyodok ke dalem. Nggak enak rasanya.”

Itu adalah instruksi paling absurd yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya.

Tama menatapnya bingung, bibirnya basah dan sedikit bengkak, seperti murid yang tidak mengerti pelajaran.

Mina menghela napas, setengah geli, setengah gemas. Koreksinya singkat, karena bibirnya sendirilah yang akhirnya bergerak maju, mengambil alih. “Gini…” bisiknya.

Kali ini, dia yang memimpin. Bibirnya mengunci bibir Tama, menuntun lidah kaku adiknya itu, melunakkannya, sebelum menariknya dalam sebuah kuluman dalam yang ritmis dan basah. Getaran instan menjalar lurus ke tulang punggung Mina, membuat seluruh tubuhnya meremang.

Dari sudut matanya yang tidak terhalang wajah adiknya, Mina melihat posisi canggung tubuh Tama. Dia masih miring di atas sikunya, menahan berat badan dengan kaku, posisi yang jelas tidak nyaman.

Sambil terus melumat bibirnya, Mina dengan lembut menarik bahu itu. Tangannya yang bebas mendorong pinggul Tama sedikit, memutarnya di atas kasur sempit itu. Dalam beberapa gerakan halus, posisi mereka berubah. Kini Tama berbaring menghadapnya, tubuh mereka sejajar, berhadapan dengan romantis dan jauh lebih nyaman di atas sprei yang kusut.

Kali ini, tubuh mereka benar-benar menyerah pada nalurinya. Ini bukan lagi hanya soal bibir yang saling mengajar dan belajar.

Tangan mereka berdua sudah saling bergerak, saling merengkuh, mencari pegangan. Tangan Tama yang ragu-ragu kini melingkar erat di punggung Mina, menariknya lebih dekat, sementara tangan Mina menangkup belakang leher Tama, jari-jarinya tenggelam di rambut adiknya.

Pelukan itu mengerat. Payudara Mina yang hanya terlapisi bra di balik kaus oblongnya, kini menempel dengan erat di dada kurus adiknya.

Sensasi itu baru dan mengejutkan. Rasanya sedikit geli dan sangat sensitif. Mina bisa merasakan ujung putingnya sendiri mengeras, menggesek kain bra itu setiap kali pelukan mereka tanpa sadar semakin erat, mengirimkan getaran aneh langsung ke perutnya.

Bokep Indo : Selebgram Baru Jadian Udah Main di Kosan

Mina, yang memang sedikit banyak memahami konteks percumbuan ini—jauh lebih paham daripada Tama—menyadarinya lebih dulu.

Di tengah ciuman yang semakin dalam dan pelukan yang mengerat, ia merasakan ada hal kecil yang berubah di tubuh adiknya. Kakinya, yang entah sejak kapan terjepit di antara paha Tama, kini merasakan sebuah tonjolan yang keras dan panas menekan pahanya dari balik celana pendek katun itu.

Erangan rendah tertahan di tenggorokan Tama, bercampur dengan suara ciuman mereka.

Dan tidak butuh waktu lama sampai Tama sendiri menyadari sensasi itu. Didorong oleh insting murni yang baru ia temukan, ia menyadari kalau tonjolan itu memang sepantasnya digesekkan.

Gerakan halus dimulai. Sebuah gesekan yang ragu-ragu pada awalnya, lalu menjadi lebih ritmis. Tama mulai menggerakkan pinggulnya pelan, menggesekkan kejantanannya yang mengeras pada paha Mina yang terperangkap di antara kedua kakinya.

Napas Mina tertahan. Sensasi gesekan berirama itu, dikombinasikan dengan lidah Tama di mulutnya, mengirimkan sengatan listrik baru yang jauh lebih kuat ke sekujur tubuhnya.

Mina memaklumi. Memang itu prosesnya. Gairah yang muncul secara alami.

Tapi ia sedikit takjub. Tanpa foreplay yang utuh, tanpa ia meminta sentuhan khusus di tubuhnya, tanpa Tama meminta izin untuk menyentuh area-area sensitifnya, adiknya berhasil menemukan ritmenya sendiri. Cukup hanya dari ciuman dan pelukan yang (awalnya) sederhana.

Gesekan itu semakin intens. Dan saat Mina menyadari tonjolan keras itu bergerak mengedut di balik celana adiknya—sebuah tanda gairah yang tak terbantahkan—alarm di kepalanya berbunyi.

Dengan sisa kendali dirinya, Mina mendorong bahu Tama, melepaskan diri dari pelukan dan ciuman panas itu.

Udara dingin dari AC langsung menerpa bibir mereka yang basah, meninggalkan perasaan hampa sesaat. Ekspresi terluka dan bingung langsung tergambar jelas di wajah Tama. Kenapa berhenti?

“Tam, stop dulu,” kata Mina, suaranya serak dan napasnya sedikit memburu. “Ini mah udah bukan ciuman lagi. Lu udah ke mana-mana tangannya.”

Sambil berkata begitu, Mina dengan lembut meraih pergelangan tangan adiknya. Dia baru sadar entah sejak kapan tangan Tama sudah menyelip, melewati karet celana pendeknya, dan kini sedang meremas lembut bokongnya. Dia menarik tangan itu keluar dan melepaskannya.

Wajah Tama yang tadinya tegang karena gairah, langsung berubah 180 derajat. Dia kembali cengengesan, memamerkan senyum lebar seolah tidak ada hal serius yang baru saja terjadi.

“Gimana, Kak?” tanyanya dengan antusias, napasnya masih sedikit terengah. “Lulus nggak cipokan gue sekarang? Mantep kan? Mantep kan?”

Dia menaik-turunkan alisnya dengan gaya childish yang menyebalkan, seolah-olah sesi panas barusan hanyalah sebuah ujian praktek yang baru saja ia selesaikan dengan nilai A.

Mina hanya bisa menatapnya dengan mulut setengah terbuka. Dia baru saja menghentikan mereka dari sesuatu yang jelas-jelas sudah mengarah terlalu jauh, tangannya masih bisa merasakan sisa kehangatan dari bokongnya sendiri tempat tangan Tama merayap sebelumnya, dan anak ini…

“Lu bener-bener…” Mina kehilangan kata-kata. Dia tidak tahu harus marah, tertawa, atau merasa ngeri dengan kepolosan adiknya yang kelewat batas itu.

Tonton Video Bokep Terbaru : Ngewe Cindo Admin Kamboja

Tanpa butuh waktu lama, kegiatan itu resmi menjadi rutinitas sore mereka.

Tidak ada lagi canggung. Tidak butuh banyak kata-kata manis atau rayuan. Tidak ada lagi permintaan memelas dari Tama atau keraguan dari Mina. Bibir itu, dan tubuh pemiliknya, kini saling menemukan satu sama lain dengan bahasa yang mereka ciptakan sendiri.

Hampir setiap hari, selalu ada celah. Entah itu sepulang Mina kuliah, saat Tante Ratna sedang berbelanja kebutuhan dapur, atau ketika Om Wandi sibuk mencuci mobil di teras depan. Dua remaja yang labil secara emosional itu selalu bisa menemukan celah sempit di antara batasan tembok dan pintu kamar rumah kecil itu.

Ciuman yang kikuk telah berubah menjadi sesi yang dalam dan penuh eksplorasi. Tangan yang tadinya ragu kini bergerak lebih berani, lebih terarah.

Cat kamar yang pink menyala itu, yang dulu dikeluhkan Tama, seolah terlupakan. Warnanya tidak lagi sebanding dengan apa yang terjadi hampir setiap sore di dalamnya.

Suara ketukan keyboard mekanik yang cepat dan teriakan tertahan dari headset mengisi kamar kos kosan yang bermandikan cahaya matahari sore itu.

Sudah cukup lama sampai Mina akhirnya duduk di kasur ini dengan kemeja putihnya yang basah keringatan, lengket di punggungnya sepulang kuliah sore dari kampusnya.

Biasanya, kamar Rudi ini menjadi tempat persinggahan keduanya sebelum pulang ke rumah. Tempat mereka bercanda, atau sekadar melepas lelah. Tapi sore ini, rasanya berbeda.

Rudi masih asik di depan komputernya, bermain game online. Punggungnya menghadap Mina, bahunya tegang, dan matanya terpaku pada kilatan cahaya di layar.

Mina hanya merebahkan tubuhnya malas-malasan di atas kasur, menatap layar ponselnya tanpa minat. Atmosfer di antara mereka terasa hampa. Dia teringat panasnya kamar pink di rumah tadi siang, dan kontras itu membuatnya semakin gelisah.

“Beb, kok tumben banget lu jarang kesini lagi?” kata Rudi tiba-tiba.

Suaranya datar, dan pandangannya tetap fokus ke layar komputer. Jari-jarinya tak berhenti menari di atas keyboard.

Mina hanya menghela napas. Helaan napas itu terasa berat, sarat akan rahasia yang tidak mungkin ia bagi.

Jujurly?

Saat itu dia merasa kejujuran bukan tempatnya untuk dikeluarkan. Mustahil ia mengatakan alasannya yang sebenarnya.

“Lagi banyak banget ujian susulan, Rud,” bohongnya, suaranya terdengar lelah. “Praktikum juga numpuk. Capek banget.”

“Oh,” jawab Rudi, singkat. “Sialan mati lagi!” umpatnya, jelas lebih tertuju pada permainannya. “Yaudah, nanti kalo udah senggang, temenin gue streaming di discord ya.”

Mina hanya bergumam “Hm,” dan kembali menatap layar ponselnya, merasa lebih jauh dan lebih asing dengan pacarnya itu daripada sebelumnya.

Tonton Bokep Indo : Nyepong Mantan di GuestHouse

Mina yang sudah tertidur pulas, ditemani latar belakang suara berisik game dan umpatan-umpatan Rudi tadi akhirnya terbangun seketika ketika merasakan tangan Rudi sudah berada di atas payudaranya, meremas kasar dari luar kemeja.

Matanya sontak terbuka, karena kaget.

Entah sejak kapan Rudi sudah tidak lagi duduk di depan komputurnya. Cowok itu kini sudah berada di kasur, tubuhnya miring menghadapnya. Ia kini fokus dengan ‘mainan favoritnya’, dengan bibirnya yang menyeringai.

Mina membiarkan saja tangan itu menyelusup, mencari celah di antara kancing kemejanya.

Itu adalah signature foreplay khas yang memang biasa Rudi lakukan. Sebuah rutinitas.

Matanya kembali terpejam. Alih-alih merasakan gairah, yang ia rasakan hanyalah sisa-sisa kantuk yang masih menempel berat di kepalanya. Dia hanya ingin tidur. Jadi, dia membiarkan saja tangan itu merayap, menyentuh kulitnya, masih terlalu malas untuk bereaksi.

Rudi, yang merasa diabaikan, merengek. Gerakan tangannya di balik kemeja Mina terhenti.

“Beb, ayo dong,” rengeknya, suaranya terdengar manja. “Udah lama banget nih kita nggak ketemu, masa sekarang gue dikacangin.”

Mina membuka sebelah matanya. Dia melihat wajah pria yang sudah dua tahun dipacarinya ini memelas, memohon sesuatu padanya. Wajah yang dulu selalu membuatnya berdebar, kini hanya membuatnya merasa lelah.

Dengan gerakan natural yang mengalir—lebih karena kebiasaan daripada keinginan—tangannya memeluk Rudi dengan lemas. “Yaudah, ayo,” gumamnya. “Gue buka kemeja dulu, Beb. Ntar kusut nih.”

Tapi Rudi cuek. Sudah terlalu terburu-buru. Dia mengabaikan permintaan Mina dan tangannya kini beralih, menyelusup ke dalam pinggang celana panjang biru yang dipakai Mina.

Mina, yang baru saja hendak bangun, sontak menepuk tangan itu dari luar celananya.

“Dih, bentaran bisa nggak sih. Nafsu bener,” kata Mina, nadanya datar dan sedikit jengkel.

Gerakannya yang menepis itu membuat Rudi akhirnya berhenti total. Dia menarik tangannya dan menatap Mina dengan tatapan berbeda. Bukan lagi memelas, tapi jengkel.

“Ayolah, Beb. Lu kenapa sih jadi gini?” tanyanya, suaranya kini terdengar serius. “Gue bikin salah?”

“Kagak,” jawabnya singkat sambil lalu, matanya menatap langit-langit kamar Rudi.

Tak ada lagi yang perlu dikatakan. Untuk mengakhiri perdebatan yang bahkan belum dimulai, Mina menyerah pada rutinitas.

“Iya udah, ayo.”

Kakinya merentang membuka, memberikan akses. Tangannya bergerak tanpa gairah, melepas kancing kemeja putihnya satu per satu.

Rudi, melihat gestur itu sebagai lampu hijau yang ia tunggu-tunggu, tidak membuang waktu. Dia meneruskan kegiatannya, mengabaikan tatapan kosong Mina. Wajahnya langsung terbenam di lekukan leher Mina, mulai meninggalkan ciuman-ciuman basah yang terburu-buru.

Sesi sore ini terasa hambar buat Mina.

Ciuman basah Rudi di lehernya, yang biasanya bisa memicu percikan kecil, kini hanya terasa basah tanpa gairah. Gerakan tangannya yang meraba-raba di balik kemejanya yang setengah terbuka terasa membosankan, sebuah rutinitas yang sudah dihafal luar kepala.

Entah apa yang berubah, tapi gelora di tubuhnya terasa sirna begitu saja. Tidak ada lagi debaran antisipasi, tidak ada keinginan untuk menjelajah lebih jauh.

Sempat terpikir olehnya, apakah karena hanya ‘itu-itu saja’ menunya? Selalu pola yang sama, gerakan yang sama, dan berakhir dengan cara yang sama. Atau… apakah karena hal lain? Bayangan kamar pink yang panas dan ciuman yang kikuk namun panas itu melintas sekilas di benaknya, tapi ia buru-buru menepisnya. Itu tidak relevan di sini, tidak saat ini.

Yang pasti, Mina yang memang butuh pelepasan juga, dengan malas ia menghela napas pasrah. Dia tidak bisa hanya berbaring di sini dan menunggu sesuatu yang tidak akan datang.

Dengan kesadaran penuh, ia mengizinkan tubuhnya untuk kembali bangkit dari rasa kantuknya. Dia mengambil alih. Tangannya bergerak, memandu. Dia menuntun Rudi, yang tubuhnya terasa kaku dan membosankan di atasnya, membantunya menemukan ritme yang lebih pas.

Dia akan membantunya menaiki tangga kenikmatan itu, agar semua ini bisa cepat selesai.

Gesekan antar celana itu membuatnya bosan setengah mati. Seperti sensasi yang terhalang, gatal yang tidak bisa digaruk, dan jelas tidak bisa memberikan efek candu yang diinginkannya. Semuanya terasa tanggung.

“Beb, buka aja yuk, Beb,” bisik Rudi, napasnya panas di telinganya.

Mina sedikit terkejut. Gerakan pinggulnya yang malas terhenti. Tumben-tumbenan nih Rudi menginisiasi gerakan baru. Selama ini, mereka selalu bermain di zona aman dry humping ini.

“Emang mau ngapain?” tanya Mina, matanya masih menatap langit-langit. “Kalo dimasukin, gue nggak mau, Beb,” katanya, menegaskan batasannya. Tubuhnya masih terus bergoyang pelan, mencari kenikmatan yang entah di mana adanya karena terhalang kain katun celana dalam mereka.

“Enggak, Beb, enggak… Sumpah,” jawab Rudi cepat, suaranya sedikit mendesak. “Nempel aja. Biar lebih kerasa… kulit ketemu kulit.”

Dia berhenti sejenak, seolah ragu. “Atau… mau gue… jilatin?”

Mina langsung membeku.

Itu. Itu adalah menu yang sama sekali baru. Selama dua tahun ini, Rudi tidak pernah menawarkannya, dan Mina tidak pernah memintanya.

Dia menoleh, menatap wajah pacarnya yang kini memandangnya dengan campuran nafsu dan harapan. “Serius?”

“Iya, Beb. Gue pengen nyoba… Biar lu enak,” katanya.

Mina terdiam sesaat. Kejujuran yang tiba-tiba itu, tawaran yang di luar kebiasaan itu, sedikit menggoyah kebosanannya. Mungkin… ini bisa berbeda.

Tanpa menjawab, Mina sedikit mengangkat pinggulnya, memberikan akses bagi tangan Rudi untuk bekerja membuka kancing celana linennya.

Saat kepala Rudi sudah mendekat di sela pahanya, Mina sedikit mundur.

“Beb, tapi gw keringetan,” katanya, suaranya ragu. “Rada bau lho.”

Rudi menggeleng. Dengan keteguhan hatinya, dia tetap maju menyongsong menu baru itu.

Mina hanya bisa memandang plafon kamar itu, pasrah. Belum pernah sekalipun menu ini masuk ke daftar ‘makanan’ hariannya.

Mina pikir ini akan spektakuler, kan? Sebuah terobosan baru yang akan mengguncang dunianya?

Nggak.

Rasanya biasa aja. Ya, memang ada geli-geli sedikit dari sentuhan basah dari lidah Rudi yang terasa asing itu, tapi tidak ada gelora yang meledak seperti yang ia bayangkan. Alih-alih, yang ia rasakan tetaplah rasa gatal familier yang butuh digaruk lebih dalam—sesuatu yang jelas tidak bisa dijangkau oleh lidah Rudi.

Hanya saja, memuaskan gatal itu berarti akan meruntuhkan tembok pertahanan yang sudah susah payah ia jaga. Dan dia mencoba bertahan dari itu.

Anti-klimaks ini terasa lebih menyebalkan daripada kebosanan tadi.

“Udah, Beb.”

Tangan Mina menekan pelan puncak kepala Rudi, mendorongnya menjauh dari selangkangannya. Rudi mendongak, wajahnya bingung, bibirnya basah.

“Kaya biasa aja,” ulang Mina, suaranya datar. “Nggak enak gue.”

Rudi memandangnya dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Masukin aja dikit kali, Beb,” katanya pelan. “Ujungnya aja.”

Mina hampir tersedak. Ini adalah garis batas yang selalu mereka bicarakan. Sepersekian detik ia sempat mempertimbangkan bujukan klasik itu, tapi akal sehat menguasainya.

“Gak, gak, gak,” katanya cepat, menggeleng. “Udah, nggak apa-apa biarin aja. Enak yang kayak biasa aja.”

“Sini.” Mina menarik tubuh Rudi ke atas tubuhnya, memposisikan mereka kembali seperti semula, di antara kakinya yang terbuka.

Dia mencium bibirnya, berusaha mengembalikan ritme yang hilang. Tapi dia sempat heran. Kenapa bau dan rasanya yang asam ini sedikit berbeda? Rasanya asing di lidahnya. Sekejap kemudian, dia menyadari dengan jelas dari mana rasa dan bau itu berasal.

Itu adalah sisa rasa dari tubuhnya sendiri.

Kembali ke gerakan monoton super membosankan itu. Rudi menggesekkan pinggulnya di atas Mina dengan ritme yang sama seperti biasa.

Mina memejamkan mata, berusaha keras memusatkan pikirannya untuk mencapai puncak gunung es itu. Dia mencoba membayangkan sesuatu yang panas, sesuatu yang bisa memantiknya. Tapi pikirannya buntu.

Dan saat bayangan adiknya muncul—bibirnya yang kikuk, lidahnya yang “menyodok”, cara dia merajuk, dan bagaimana dia memegang tangan Mina—gelora itu mendadak membakar tubuhnya.

Bulu kuduknya meremang sesaat. Tengkuknya bergidik.

Gelora yang hilang itu kini kembali, lebih kuat dari yang seharusnya.

Dengan semangat membara yang baru ditemukan, dibarengi rasa panas akibat gesekan kain celana yang kini terasa menyiksa, Mina tahu dia sebentar lagi akan sampai. Dia mencengkeram kaus Rudi, pinggulnya balas bergerak lebih cepat, mengejar pelepasan itu.

Sedikit lagi…

Dikit lagiiiiii…

Awas aja lo berent—

Rudi berhenti.

Gerakannya mati total, tubuhnya menegang di atas Mina.

Mina terhempas dari puncaknya. Perasaan hampa dan jengkel yang luar biasa langsung menggantikannya. Dia baru saja akan sampai di sana, di puncak tertinggi gunung kenikmatannya.

Namun, sebelum mulutnya bisa berucap protes, ia merasakan sesuatu yang lain. Rasa hangat yang basah tiba-tiba mengalir di sela pahanya, merembes menembus kain celana dalam mereka.

Shit!

“Beb, lu udah keluar ya?” kata Mina, suaranya tajam dan jengkel.

Rudi tidak menjawab. Dia hanya ambruk di atas Mina, napasnya ngos-ngosan terbenam di lehernya.

Mina, yang masih merasakan sisa-sisa tangga menuju puncak orgasmenya, langsung bereaksi. Gairahnya belum padam.

Tangannya mencari-cari tonjolan penis yang sebelumnya ada di celana Rudi. Dia merasa masih bisa sedikit lagi.

“Ayo, Beb. Gue belom sampe nih,” bisiknya mendesak.

Tangannya mengusap-ngusap frustrasi di celana Rudi, mencoba membangkitkan kembali apa yang baru saja hilang.

Namun, Rudi sudah mendengkur, meninggalkannya dengan perasaan hampa.

Di dalam taksi online, Mina duduk gelisah. AC mobil itu dingin menusuk, tapi api di dalam tubuhnya masih enggan dipadamkan.

Celana dalamnya yang sudah basah—oleh Rudi dan tentu saja oleh cairannya sendiri— menempel tidak nyaman dan menggesek klitorisnya tiap kali mobil itu masuk jalanan jelek.

“Aduh Pak, pelan-pelan aja,” katanya pada supir di depannya.

Supir itu meminta maaf sambil mengangguk.

Dan saat taksi itu akhirnya berbelok, memasuki gerbang komplek rumahnya, otaknya yang tumpul itu kini hanya berisi satu hal.

Adiknya

JOIN GRUP VVIP
JOIN GRUP WHATSAPP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *