Tante Pembangkit Gairah

Petualangan Kehangatan Sang Penggoda

Gejolak Hasrat dan Panggilan Merdu

Beberapa hari lalu, perutku memberontak—konsekuensi dari ritme kerja yang gila dan jadwal makan yang berantakan. Aku, yang akrab disapa Wawan, harus memastikan segala sesuatunya beres sebelum kembali bersemangat menapaki karir.

Pagi itu, di tengah tumpukan pekerjaan proyek tekstil yang harus kuberesskan, aku mencoba mencari udara segar digital. Kotak masuk surel menyambutku: ucapan terima kasih dari kolega, permintaan proposal, dan lelucon dari kawan lama.

Tiba-tiba, getaran ponsel memecah keheningan. “Yang, lagi apa nih? Aku rindu…” Suara Monika, kekasihku, terdengar seperti melodi dari ujung sana. Kami bertukar janji manis untuk malam nanti—sebuah jaminan kehangatan yang mendamaikan.

Namun, belum sempat fokusku kembali, ponsel kembali berdering. Nama yang tertera membuat sudut bibirku terangkat: Tante Sonya.

“Halo Wan, apa kabar, Sayang?” Suaranya penuh manja. “Baik, Tante.” “Kau sombong, ya? Mentang-mentang banjir proyek, Tante dilupakan?” guraunya.

Tante Sonya tak memberi ruang untuk protes. Ia langsung menyodorkan umpan baru: seorang teman yang memiliki proyek besar. “Tapi ingat, kau harus datang besok. Tante sudah kelewat rindu.”

“Oke, Tante. Besok Wawan pasti ke sana. Rindu juga sama Tante yang seksi tak tertahankan,” balasku berani. Tawa kecilnya adalah janji. Sejak pertemuan kami saat transaksi mobil, aku memang telah ketagihan memuaskan dahaga birahi bersamanya. Siapa lelaki normal yang bisa menolak daya pikat wanita sebegitu cantiknya?

Aroma Parfum dan Daya Pikat Galeri

Dengan secarik kertas di tangan, aku berhitung. Proyek baru ini akan membebani, tapi naluri bisnisku tak bisa menolak tawaran dari koneksi Tante Sonya.

Sore itu, aku tiba di sebuah galeri seni mewah di kawasan elit. Setelah diizinkan masuk, resepsionis yang ramah mengantarku melewati lorong penuh lukisan indah yang bermandikan cahaya.

“Permisi Bu, ini Mas Wawan,” kata resepsionis itu saat kami memasuki sebuah ruangan kantor privat.

Aku terpaku. Ibu Yulia. Usianya mungkin baru sekitar 30-an. Wajahnya cantik, kulitnya putih memikat. Ia mengenakan gaun dengan tali tipis yang hampir tak sanggup menahan belahan dada padat yang membusung. Ditambah rok mininya yang memamerkan kaki jenjang nan mulus. Darah mudaku bergejolak ganas.

Jabat tangannya terasa lembut dan lentik di tanganku. “Hai Wawan, saya Yulia.”

Kami duduk di sofa. Ia tersenyum, mengatakan bahwa ia adalah teman fitness Tante Sonya yang telah menceritakan banyak hal tentangku.

Jarak yang Terhapus di Sofa

Saat perbincangan beralih ke proposal bisnisku, Ibu Yulia berpindah duduk tepat di sebelahku untuk melihat penjelasan di laptop. Aroma parfumnya yang lembut, memabukkan, semakin memicu badai dalam diriku. Sesekali, aku mencuri pandang ke belahan dadanya yang putih mulus. Hasrat untuk meremas payudara yang menggemaskan itu begitu kuat, tetapi profesionalitas masih mengikatku.

Setelah kesepakatan harga tercapai, ia menyetujui tenggat waktu satu bulan yang kuminta. Kemudian, ia memesan dua jus jeruk.

“Kamu masih kuliah, Wan?” tanyanya. “Tahap akhir, Bu.” “Jangan panggil saya Bu. Saya masih muda. Panggil saja Tante,” katanya, tersenyum menawan. Pengalaman yang sama persis dengan Tante Sonya.

Setelah jus disajikan dan asistennya pergi, Tante Yulia melakukan gerakan yang membuat jantungku berdesir: ia bangkit, menutup, dan mengunci pintu kantor.

Ia kembali duduk di sampingku. Ketika ia menyilangkan kakinya, paha putih mulusnya yang menggoda terpampang jelas. Aku tak bisa mengalihkan pandangan.

“Sedang lihat apa, Wan?” godanya, senyumnya manis sekali. “Hanya kagum, Tante. Anda cantik sekali.” “Ah, kau genit juga, ya? Pandai merayu.”

Tiba-tiba, tangannya meraih tanganku, meletakkannya di atas pahanya sendiri. “Kau menginginkan ini, kan?” Tanpa menunggu jawaban, wajahnya mendekat, dan bibir kami beradu dalam ciuman panas yang meluluhlantakkan akal sehat.

Puncak Kenikmatan di Balik Meja Kerja

Aku membalas ciuman itu dengan gairah yang meluap. Sambil lidah kami saling berpacu, tanganku meremas, lalu mengusap paha mulusnya. Ia mengerang tertahan ketika tanganku menyelusup, menyibak celana dalamnya, dan menemukan titik rawan kenikmatannya. Cairan vaginanya terasa deras membasahi jariku.

“Ehh… Ahh, enak, Wan! Memang benar kata Sonya, kamu hebat! Terus, Wan!” erangannya semakin kencang.

Sambil jariku terus bermain di klitorisnya, aku mencium leher dan pundak putihnya. Aku menarik turun tali gaunnya. Payudaranya yang padat melompat keluar dari BH, seolah menantangku. Aku langsung menerkam gundukan kenyal itu, menghisap dan menjilati putingnya yang memerah muda.

“Ahh… Yesss… I like it! Oh God…” Rintihan Tante Yulia memenuhi ruangan kantor.

Aku menghentikan sebentar. Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang kentara. “Wan, don’t stop, please! Ayo teruskan!” pintanya memelas. “Suami Tante?” tanyaku. “Dia sedang di luar negeri. Ayo, Wan… Puaskan Tante, Sayang,” katanya, mendorong kepalaku kembali ke arah payudaranya yang montok.

Aku kembali menghisap, mengulum puting yang semakin mengeras. Tante Yulia menggeliat hebat. Setelah puas, aku mengangkat gaunnya, menanggalkan celana dalam berenda yang seksi. Vaginanya yang bersih tanpa sehelai pun rambut terlihat jelas.

Aku segera menjilati dan mencium liang vaginanya, membuatnya melonjak di sofa. “Ahh… Wan… Yess… Ohh…” Tubuhnya melengkung, menahan kenikmatan. Aku melebarkan pahanya, menjilati dan menggigit pelan klitorisnya, sementara tanganku meremas payudara kenyalnya.

Tiba-tiba, ponsel Tante Yulia berbunyi. Makian kesal terucap. Ia mengangkat telepon, suaranya dipaksakan tenang, “Ya, ada apa? Aku baik-baik saja, Sayang. Lagi sibuk persiapan pameran.”

Sambil berbicara dengan suaminya yang menelepon dari luar negeri, tangan Tante Yulia meraih kepalaku yang masih berjongkok, mendorongku kembali ke tubuhnya. Aku mengerti sinyalnya. Mulutku kembali menyibak gaunnya, menghisap dan menjelajahi bibir vaginanya, lalu kembali menghisap klitorisnya.

Aku melihatnya menggigit bibirnya sendiri, menahan erangan agar suaminya tak curiga. “Iya, Dear… Udah dulu ya. Aku banyak kerjaan. I love you…”

Setelah panggilan ditutup, semua rintihan yang tertahan langsung meledak. “Oh God! Terus, Wan! Yess!” Aku mempercepat jilatanku.

“Ahh… Wan, kamu hebat! Aku keluar, Wan! Oh my Godd!” Tubuh Tante Yulia bergetar hebat, dan cairan vaginanya membanjir. Aku terus menghisapnya hingga tubuhnya lemas tak berdaya di sofa.

Penutup yang Basah

Setelah membersihkan diri, Tante Yulia menatapku. “Belum pernah Tante orgasme sehebat tadi. Kamu benar-benar Lelaki, Wan.”

“Sekarang giliran kamu,” katanya, memintaku berdiri.

Ia menanggalkan celanaku. “Kata Sonya, punyamu besar ya, Wan,” godanya. Setelah celana dalamku tersingkap, kejantananku yang lumayan besar menyembul, hampir menyentuh wajahnya yang cantik.

“Oh God, besar banget, Wan! I like it!” Ia mulai mengelus-elus dengan jemari lentiknya, lalu menjilati kepalaku.

“Ah… Tante…” rintihku saat lidahnya menyentuh ujung kejantananku.

Ia mengulum dan memompa. Kehangatan mulut Tante muda yang cantik ini menjalar ke seluruh tubuhku. Kuremas kepalanya, menikmati hisapan ahli tersebut. Gumaman nikmat darinya terdengar di sela-sela aktivitasnya.

“Sekarang, please fuck me, Wan. Aku ingin merasakan barangmu yang besar itu,” pintanya sambil berdiri dan membalikkan badan.

Ia menungging di atas sofa. Aku mengangkat gaunnya dan mengarahkan kejantananku ke liang vaginanya. “Oh God!” erangnya saat kepalaku mulai memenuhi liang vaginanya yang sempit. Aku mendorong, memompa vagina Tante muda itu.

“Ahh… Yes! Fuck me! Fuck me! Yes! Yes!” Erangannya setengah menjerit, payudaranya bergoyang menggoda. Jepitan vaginanya terasa begitu nikmat di sepanjang batangku.

Kami berganti posisi: duduk berhadapan. Tante Yulia menaik-turunkan tubuhnya di pangkuanku, memberi ruang bagiku untuk kembali menikmati payudaranya yang montok.

“Wan, aku hampir keluar lagi, Wan! Oh God!” serunya.

Aku kembali menghisap payudaranya, mendekap erat punggungnya, dan menggenjot cepat. “Ahh! Ahh! God! God! Ahh!” Jeritannya menandakan orgasme kedua.

Keringat membasahi wajahnya yang cantik. Aku terus menggenjot. Sesaat kemudian, aku merasakan klimaks datang. “Hmmhh…” rintihku tertahan, sambil mulutku masih menghisapi payudaranya. Sperma ku menyembur banyak ke dalam liang vaginanya.

Kami terpisah, lemas tak berdaya. Tubuhnya rubuh di sampingku.

“Tante puas banget, Wan. Belum pernah dapat yang seperti tadi dari suami Tante.” “Wawan juga puas banget, Tante. Anda terlalu cantik dan seksi.”

Setelah beristirahat sejenak, aku pamit untuk janji dengan kekasihku.

“Jangan lewat e-mail, Wan. Kau bawa saja sendiri draf kontraknya. Mumpung suamiku belum pulang. Aku tunggu, ya,” katanya, memberikan senyum manis yang penuh janji terlarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *