Sahabat Dari Kecil

Halo, aku Danny. Setelah lama berdiam di Jakarta, kini ombak Bali menjadi latar hidupku. Kisah yang kubawa ini adalah pembaptisan hasrat pertamaku, terjadi saat usiaku masih belia, sekitar 15 atau 16 tahun.

Dia adalah Claudia, sahabat karibku sejak masa kanak-kanak, sebaya denganku. Sosoknya tomboi, berteman akrab dengan para lelaki, namun hubungan kami lebih dalam dari pertemanan biasa—kami adalah belahan jiwa yang tumbuh bersama. Kedekatan keluarga kami sudah terjalin lama, membuat kami sering menghabiskan waktu bersama, terutama dalam perjalanan ke villa milik keluarganya di kawasan Puncak.

Kunci yang Membuka Pintu Keberanian

Minggu itu, kenangan melekat kuat. Semua orang dewasa pergi, meninggalkan kami berdua di komplek villa. Menjelang sore, suasana menjadi canggung; suara tokek dan kegelapan villa membuat kami takut masuk.

Pukul lima sore, Claudia melontarkan sebuah ide gila yang memecah batas kepolosan: “Mandi bareng, yuk!”

Aku terkejut. “Gila! Kita kan berbeda.” “Terus kenapa? Ayah Ibuku juga sering mandi bersama,” potongnya.

Aku kehabisan kata. Entah keberanian apa yang merasukiku, aku hanya bisa mengiyakan. Kami mengunci pintu villa dan mengambil handuk. Karena handukku basah, ia berkata, “Pakai saja handukku berdua.”

Kami memasuki kamar mandi utama. Awalnya, kami sama-sama malu, saling menyuruh buka pakaian duluan. Aku kemudian memberi usulan, “Kita balik badan, buka baju, dan lemparkan keluar agar tidak ada yang curang.” Ia setuju.

Dalam keheningan, baju-baju kami melayang keluar. Setelah telanjang bulat, kami berbalik. Mata kami saling bertemu, wajah kami memerah. Kami buru-buru menutupi “mahkota” rahasia masing-masing.

Aku memberanikan diri membuka tangan, meraih tangannya di dadanya. “Ayo mandi.” Aku baru sadar, di balik citra tomboinya, lekuk tubuhnya sudah mulai mekar, sungguh mempesona.

Sentuhan Pertama yang Menyulut Api

Kami memulai dengan sabun, canggung. Aku kemudian meminta ia menggosok punggungku. Ketika ia berbalik, tangannya tergelincir, dan secara tidak sengaja menyentuh pangkal kejantananku. Seketika, tubuhku gemetar, dan batangkau merespons, menegang dan mengeras.

Ia, dengan lugu, bertanya, “Maaf, tidak sengaja. Tapi kenapa punyamu bergerak?”

Aku membalas nakal, “Tidak sengaja, atau memang mau mencoba?” Ia tersipu, langsung berbalik, menyuruhku membalas menggosok punggungnya.

Libidoku meledak. Kulitnya terasa begitu halus saat tanganku menjelajah dari bahu, punggung, hingga pinggang. Tanpa sadar, tanganku turun, memijat lembut pantatnya. Sentuhan tak disengaja itu membangkitkan nafsu tersembunyi dalam dirinya.

Tiba-tiba, ia berbalik dan mendekap erat tubuhku. Aku merasakan payudaranya yang ranum terjepit hangat di antara dada kami. “Tanganmu juga nakal, ya?” bisiknya perlahan.

Aku, yang tak lagi mampu berpikir jernih, langsung menyambar bibirnya. Ia membalas ciumanku. Tanganku memulai ekspedisi sensasional: dari pinggang, naik ke punggung, dan akhirnya memijat dadanya. Ia pun tak kalah agresif, menjelajahi punggungku hingga ke pantat. Ternyata, ia lebih dulu akrab dengan peta gairah yang kutahu dari film-film dewasa.

Pintu Masuk ke Lembah Kenikmatan

Seiring ciuman kami memanas, kejantananku semakin tegak, hingga ujungnya menyentuh bibir Miss V-nya. Ia menggeliat geli. Aku menyalakan shower untuk membilas sabun. Sambil aku memainkan payudaranya, ia melepaskan ciuman dan mengerang pelan. Setiap cubitan lembut dan gesekan di area sensitifnya, memicu desahan manja darinya.

Tak lama, ia menciumku lagi. Batangku semakin menegang saat lidahnya bermain di mulutku, hingga kepala kejantananku berhasil menyelinap masuk ke Miss V-nya. Ia menjerit kesakitan.

Kami menyadari udara dingin menusuk karena terlalu lama di air. Kami segera menyudahi dan bergegas mengeringkan badan. Kali ini, rasa malu telah hilang. Aku mengeringkan tubuhnya, bahkan hingga ke area bawah, yang masih polos tanpa banyak bulu. Saat aku berjongkok, wajahku sejajar dengan Miss V-nya. Ia sengaja memajukan pinggulnya, mencoba mendaratkan liangnya di mulutku, tetapi ia sendiri yang kegelian.

Kami berlari ke kamarku, tanpa sehelai benang. Di ranjang, ia memintaku duduk di atas pinggulnya. Ia tak sabar ingin disatukan.

“Coba masukkan,” pintanya.

Aku justru memilih menikmati pemandangan liang ranumnya dari dekat—warnanya masih merah muda, begitu murni. “Clau, punyamu wangi sekali,” kataku.

Ia menantangku, “Rasanya manis. Coba cicipi.”

Aku menjilatinya, dan ia mengerang keenakan. Cairan beningnya sudah mulai membasahi. Aku memainkan lidahku hingga ia meremas bantal-bantal di kepalanya, mendesis menahan puncak kenikmatan, persis seperti adegan yang kulihat di layar.

Tarian Puncak dan Penyatuan Terlarang

Ia bangkit, meminta giliran. Aku terlentang, dan ia memeluk kejantananku dengan mulutnya. Aku hanya bisa mendesah, “oh ssssttt aaahhh Clau!” Suaraku justru membuatnya semakin bergairah. Ia memompa batangkau semakin cepat. Aku refleks memegang kepalanya, menahan hingga kejantananku terasa menyentuh tenggorokannya.

Setelah lima menit, ia berkata, “Aku sudah tidak tahan, ayo kita lakukan.”

Kami berdua tahu, ini adalah pembukaan tabu. Kami sama-sama masih suci. Aku meraih napas, duduk di ujung ranjang. Ia segera duduk di pangkuanku, menghadapku, kakinya terbuka. Aku langsung melahap dadanya, dan ia mendekap kepalaku ke dadanya, membuatku sedikit sesak. Dadanya, lembut dan wangi, terasa luar biasa karena ia sering meminum jamu.

Ia mengarahkan kejantananku ke liangnya. Blsss… Hanya sedikit yang masuk, dan ia langsung menindihku. “Aduh, sakit ya ternyata?” rintihnya, karena ini yang pertama.

Namun, rintihannya justru memicu hasratku. Aku sedikit mengangkat pinggul, mendorong batangkau memasuki setengah liang perawannya. Rintihannya semakin menjadi. Aku segera memutar posisi, kini aku di atasnya.

Perlahan, aku memasukkannya lebih dalam. “Aahh ssssttt Dan ssssttt uda oohhh?” Aku menciumnya, membungkam jeritannya.

Setelah setengah jam perjuangan, sodokan terakhirku memasukkan seluruh kejantananku. Kali ini, ia tak meminta berhenti, malah menikmati, mengerang, dan tersenyum. Aku melihat jejak darah perawannya di sekitar liang kami, namun ia berkata itu tidak masalah.

Aku mulai memompa, dan ia mengerang kenikmatan, mendesis. Setelah seperempat jam lagi, ujung batangkau berdenyut di dalam liangnya. Mulut liangnya pun bergetar, menjepitku semakin erat.

“Klimaks, Clau? Mau keluar?” tanyaku. “Cabut, Dan, aku juga mau klimaks!”

Tapi tubuh kami sudah terlalu lemas. Kami mencapai puncak bersamaan. Crot… crot… crot… Cairanku tumpah di dalam liangnya.

Claudia kaget, ia belum mendapatkan siklus bulanannya. Rasa takut memergoki kami berdua. Tetapi sudah terjadi. Kami berciuman lagi. Dengan kejantananku masih tertanam, kami melakukan hal gila: perlahan kami turun dari ranjang, berjalan ke kamar mandi, dan mandi berdua, tetap menyatu. Keringat dan ketegangan kami larut dalam air.

Setelah mandi, baru kami melepaskan diri, mengenakan pakaian, dan duduk di sofa. Tak lama, orang tua kami kembali. Kami sudah tertidur di sofa, untungnya dekapan kami sudah terlepas.

Setelah kejadian Puncak itu, kami sering berkomunikasi. Kami tidak melakukan penyatuan lagi, hanya ciuman dan jelajahan, menunggu ia menstruasi. Untungnya, ia mendapatkannya di akhir minggu ketiga.

Ia menjerit kegirangan. Di rumahnya yang kosong, ia keluar kamar mandi telanjang dan memelukku. Kami berciuman, dan sehari setelah siklusnya berakhir, kami kembali menari dalam gairah, entah di rumahnya, di rumahku, atau di tempat rahasia kami.

Kini ia telah pindah ke Amerika. Terakhir kali kami bertemu, ia semakin mempesona. Sebelum ia kembali, kami sekali lagi melakukan ritual penyatuan kami, lupa menggunakan pengaman. Ia berkata, untukku, ada pengecualian.

Claudia adalah pelabuhan pertamaku, guru pertama yang mengenalkanku pada samudra hasrat. Dan begitulah cerita dari narasumber kami, Danny.

One thought on “Sahabat Dari Kecil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *