Mengukir Gairah di Bangku SMA

Aku, sebut saja Maru, membawa kalian kembali ke lorong-lorong berdebu masa SMA, tempat takdirku bersilangan dengan Melly, sang kekasih remaja. Dia adalah definisi sempurna dari dambaan masa seragam: supel, cerdas, dengan lekuk tubuh yang begitu ranum dan mulus, dibingkai oleh pesona sepasang mahkota yang memenuhi cup berukuran 36B. Enam bulan kami berjalan di atas kanvas romansa, namun obrolan kami jauh melampaui pekerjaan rumah. Kami sering berbagi peta rahasia gairah, dari posisi hingga titik-titik tersembunyi kenikmatan—pengetahuan yang kutimba dari literatur dewasa dan panduan audiovisual.

Sebelum melanjutkan kisah ini, tarik napas dalam-dalam. Kendalikan gejolak di balik kainmu. Kisah penyatuan ini sungguh panas, memicu sensasi dingin-panas yang merambat di kulit.

Di akhir masa ujian, aku melempar umpan sederhana. “Melly, mau mampir ke rumahku? Sekadar mengobrol?”

Jawabannya menyalakan sebuah alarm manis di dadaku, “Aku mau, asalkan di rumahmu tidak ada siapa-siapa.”

Seolah semesta merestui, rumahku sedang kosong karena keluargaku menghadiri acara di luar kota. Hanya ada asisten rumah tangga yang jauh dari pandangan. “Baiklah, kita berangkat sekarang,” balasku, merasakan gelombang antisipasi menjalar.

Setibanya di rumah, aku langsung membawanya ke kamarku di lantai atas. Aku menyalakan musik yang mengalun lembut dari pemutar, sementara Melly masuk ke kamar mandi, mungkin untuk membasuh penat.

Ketika ia muncul, napasku tertahan. Ia mengenakan tank top gelap yang samar dan celana jins, dilapisi jaket tipis. Pakaiannya yang “sedikit terbuka” membuat naluriku mendidih. Aku tak bisa menahan diri, “Tumben sekali berani berpenampilan seperti ini?”

Hanya senyum manis yang ia berikan, lalu ia duduk di pangkuanku. Sesaat itu, aroma tubuhnya yang memabukkan menyerang indraku, memicu ketegangan di antara kami.

“Lepas saja jaketmu. Hanya aku yang bisa melihat,” bisikku. Ia menuruti, dan tubuhnya yang sintal, dengan kulit kecokelatan yang eksotis, kini terpampang lebih jelas.

Tanpa menunggu, aku mencium tengkuknya, lalu meniup dan menjilati telinganya selembut es krim yang meleleh. Sensasi itu membuatnya menggeliat dan berbalik, wajah kami kini berhadapan.

“Ih, geli tahu!” candanya. Aku membalas dengan senyuman dan langsung menempelkan bibir tipisnya.

Di luar dugaanku, ia membalas ciuman itu dengan penuh gairah. Lidah kami menari, mengikuti irama yang telah sering kuceritakan. Kami berdua hanyut dalam French Kiss selama tujuh menit, duduk di kursi.

Namun, ia menginginkan lebih. Dengan gerakan provokatif, ia menggesekkan pinggulnya tepat di atas pusat gairahku yang kini tegang sempurna. “Katanya kamu ahli. Coba buat aku terkesan dengan permainanmu?” tantangnya. Pusat kesadaranku langsung menyerah.

Aku membawanya ke ranjang. Kami berbaring saling berhadapan, melanjutkan ciuman, sementara tanganku mulai menjelajah bagian atas tubuhnya. Terdengar irama kecupan dan bunyi basah air liur. Aku perlahan melonggarkan tali tank top itu.

“Eits, mau lihat payudaraku?” tanyanya, sedikit nakal. “Ya,” jawabku singkat, penuh hasrat.

Bagian atas tubuh Melly terbuka. Sepasang buah padat yang masih molek menyambut pandanganku. Sambil bibir kami menyatu, kedua tanganku memijat payudara itu, meremas dan memilin putingnya. Ia mendesah, sedikit kesakitan, namun ada nada kenikmatan di sana.

Aku turun, menjilati dan menggigit ringan putingnya. “Ahh, enak, Nton… terusin saja, ya,” bisiknya. Gairahnya telah mencapai titik didih.

Tanganku mulai turun, mencari jalannya di balik celana jins ketatnya. Sulit. Permainan kami terhenti sejenak. Aku bertanya, menatap matanya dalam-dalam, “Kamu yakin mau melepaskan gelar perawanmu padaku? Kita bugil?”

Anggukan kepalanya adalah persetujuan yang paling mendebarkan.

Pakaian kami terlepas. Kami saling memandang, mengagumi pahatan tubuh kami: Melly yang aduhai, dan aku yang sedikit gemuk dan pucat.

Kami kembali berpelukan. Tanganku kini lebih mudah menjelajahi area terlarang di bagian bawahnya. Dua jari tangan kananku masuk ke dalam liangnya, dan aku merasakan cairan hangat di dalamnya. Aku memborbardir Melly dengan jari-jariku. Desahannya kini lebih intens, meskipun tertahan.

Melly, yang kini sudah berani, mulai menggenggam dan memainkan kejantananku. “Sayang, bagaimana kalau kita ganti posisi menjadi Posisi 69?” usulku.

Lagi-lagi ia mengangguk. Kami bertukar posisi. Pemandangan liang Melly yang sempit, bersih, dan harum dihiasi bulu-bulu kemaluan yang lebat, sungguh memukau.

Aku menjilati dan memainkan bibir vaginanya, sesekali menggigitnya ringan. Sementara itu, Melly “berkaraoke” dengan pusat gairahku. “Aww sakit, Nton, tapi enak… Ahh… terusin… ahhh!!”

Tiba-tiba, cairan hangat dari Melly menyembur. Aku refleks menelannya, saking nikmatnya permainannya. Di bawah, Melly juga menunjukkan keahliannya. Ia mengulum dan memompa kejantananku dengan irama seorang ahli, rasanya mantap tak terkira.

Setelah tiga puluh menit dalam posisi 69, Melly memohon, “Nton, aku ingin coba dimasukkan.”

Semangatku membara. Aku segera mengangkatnya, menempatkan liangnya tepat di atas kejantananku. Meskipun sedikit licin, penyatuan itu terjadi.

Melly menjerit kesakitan, “Ouch, perih, Nton! Kau apakan aku?” “Tenang, ini baru pertama. Wajar jika agak sulit,” jawabku.

Aku mengatur ritme, mempercepat gerakan naik-turun sambil meremas payudaranya. “Uuh… ahh… ouch… ihh… sakit… sakit… enak… uuh…” Ia tampak mulai lemas.

“Sudah mau orgasme belum?” tanyaku. “Sedikit lagi, Nton!”

Aku menariknya hingga kami dalam posisi duduk berhadapan, kejantananku masih bersemayam di dalam dirinya. Dalam posisi ini, aku mempercepat gerakan. Ciuman kami panas, tanganku meremas payudaranya.

“Ahh, Nton… oh yeah… terus, Nton!”

Aku merasakan dinding vaginanya menyempit dan ada semburan cairan hangat. “Aku keluar juga, Nton, akhirnya!” seru Melly lega. Aku hanya mengangguk, lalu melanjutkan sesi panas kami.

Kami berganti posisi terakhir. Melly terbaring lemas, kakinya bertumpu di pundakku, membuat liangnya terbuka lebar. Aku kembali memasuki liang itu, menarik-ulur perlahan. “Ahhhhhhh uuuuhhhhhh enaaaaaaakkk yeaaaaah…”

Melihat wajah Melly yang terkulai lemas, aku merasa kasihan. Ini adalah pengalaman pertamanya. Aku memutuskan untuk mengakhiri permainanku. Karena aku belum klimaks, aku memintanya mengulum kejantananku. Beberapa menit kemudian, benihku tumpah di dalam mulut Melly. “Mantap kau, Mel,” pujiku.

Kami terlelap bersama, tubuh telanjang kami saling memeluk. Tak terasa, hari sudah menjelang Magrib. Setelah mandi berdua, aku mengantarnya pulang, tepat sebelum keluargaku kembali.

Pengalaman ini adalah yang pertama baginya, tetapi bukan untukku. Sejak saat itu, kami sering mengulang permainan ini, di rumahnya, bahkan di dalam mobil dalam perjalanan. Permainan Melly kini telah berkembang jauh lebih liar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *