
Malam itu harusnya jadi malam biasa, sekadar berbagi kehangatan di bawah selimut. Aku dan Farah, istriku, sudah hampir berlayar ke pulau kapuk. Tiba-tiba, suara “PRAAANG!” dari arah dapur memecah sunyi, bunyinya seperti piring terbang salah mendarat.
Farah langsung memelukku, alarm tubuhnya menyala. Jantungku ikut berdebar, bukan karena Farah, tapi karena firasat buruk. Ada tamu tak diundang di area teritori kami.
Kucoba jadi pahlawan. Lampu kunyalakan, niatnya mau cek dapur. Farah menahan, matanya bilang “jangan”. Tapi apa daya, rasa penasaran seorang suami lebih besar. Pelan-pelan, aku buka pintu kamar.
Dan di sanalah dia. Di bawah jendela dapur yang kacanya sudah jadi remah-remah, berdiri sesosok bayangan yang jelas bukan tetangga pinjam gula. Sosoknya besar, lebih gagah dari aku, dengan aura sangar khas pria yang lama tak menyentuh pisau cukur.
Kami sama-sama kaget. Tapi dia jelas lebih sigap. Tangannya secepat kilat menyambar pisau dapur—pisau dapurku sendiri!—dan mengarahkannya padaku.
Jujur saja, aku ini tipe pria rumahan, bukan jagoan film laga. Nyaliku yang tadi setinggi tiang bendera, langsung ciut jadi seukuran tusuk gigi. Aku ambil langkah seribu, balik ke kamar, mencoba menahan pintu sekuat tenaga.
Tapi percuma. Tenaganya seperti badak. Pintu jebol, aku terlempar ke lantai. Istriku histeris, teriakannya percuma. Kami tinggal di perumahan baru yang lebih banyak rumah kosongnya daripada penghuninya. Mau teriak sampai pita suara putus juga takkan ada yang dengar.
Si Brengsek ini—kita sebut saja begitu—menang mutlak.
Dia menyeretku keluar kamar, matanya liar memindai seisi ruangan, mencari mangsa berharga. Yang dia temukan? Cuma lakban. Lakbanku juga.
Dengan kasar, aku didudukkan di lantai. Tangan, kaki, sampai mulut, semua dibungkus lakban. Aku jadi patung tak berdaya. Dalam kebisuan, aku diseret kembali ke kamar tidur kami.
Farah, yang sudah gemetar di sudut ranjang, tak luput dari aksinya. Mulutnya dibekap, tubuhnya dibaringkan. Aku hanya bisa melotot, tak mampu berbuat apa-apa. Si Brengsek itu mulai bekerja. Tangan dan kaki istriku direntangkan, diikat ke tiang-tiang ranjang.
Pemandangan berikutnya membuat darahku mendidih sekaligus membeku.
Aku tergolek lumpuh di lantai. Istriku, Farah, terentang pasrah di ranjang pengantin kami.
Perasaanku sungguh tak keruan. Sosoknya yang kasar, ototnya yang menyembul dari kaus dekilnya, tatapan matanya yang lapar… Aku tahu ini akan jadi malam yang panjang.
Dia menatap istriku yang hanya berbalut piyama tipis. Udara memang sedang gerah malam itu.
“Diam ya, Nyonya Cantik…” desisnya. Matanya tak lepas dari lekuk tubuh Farah yang terbalut kain tipis itu.
“Aku mau makan dulu ya, Sayang. Jangan macam-macam.”
Dia pergi ke dapur. Makan. Pakai pisauku, pakai lakbanku, sekarang makan makananku. Benar-benar tamu tanpa modal.
Farah mencoba meronta, tapi sia-sia. Matanya cemas menatapku. Aku hanya bisa menggeleng, memberi isyarat agar ia menyimpan tenaga.
Selesai makan, dia kembali dengan wajah kesal. Dia mengobrak-abrik lemari, mencari harta. Tapi kami pasangan baru, harta kami cuma cinta dan cicilan KPR. Dia tak menemukan apa-apa.
Kekecewaan membuatnya beralih sasaran.
Dia memandangi Farah yang terikat. Dia mendekat. “Mana uangnya, hah? Kalian miskin, ya?”
Tangannya yang berotot bergerak cepat. Baju tidur istriku ditariknya paksa. Kancing-kancing berhamburan. Dan di sanalah, dua bukit kembar yang indah terpampang di depan matanya. Farah memang tak pernah pakai “penyangga” saat tidur.
Wajah si Brengsek itu… terkesima.
Ketakutanku mencapai puncaknya. Aku tahu apa yang akan terjadi. Dia merasa berhak mengambil kompensasi atas waktu dan usahanya yang sia-sia.
“Di mana uangmu, Nyonya Cantik?” tanyanya lagi. Tapi kali ini, tangannya mulai beraksi. Tangan kasarnya menyentuh kulit istriku, mengelus, lalu merayap naik ke gundukan indah itu.
“Ampun…” Mata Farah panik, ia memejamkan mata, hanya suara tertahan yang keluar dari hidungnya.
Tapi sentuhan itu tak berhenti. Air mata istriku justru jadi bensin yang menyulut api kebrutalannya. Tangan laknat itu mulai meremas, menjelajahi setiap inci tubuh sensitifnya.
Darahku mendidih. Aku coba berontak, menendang-nendang ranjang.
“Hey, Brengsek! Mau apa kamu? Jangan ganggu istrimu yang lagi menikmati pijatanku,” ancamnya.
Aku putus asa. Batinku meratapi takdir.
Dan yang terjadi berikutnya… adalah sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Si Brengsek itu merobek sisa pakaian istriku. Farah kini telanjang bulat, kecuali selembar kain kecil penutup terakhirnya. Pria itu merebahkan tubuhnya di samping istriku. Farah seperti rusa yang tertangkap serigala.
Air matanya terus mengalir. Dalam kondisi itu, aku baru sadar betapa sensualnya istriku. Rambutnya yang acak-acakan, lekuk bahunya, payudaranya yang ranum dengan puting merah menantang. Pinggulnya… Uuhh… Cukup untuk membuat iman lelaki mana pun runtuh.
Si Brengsek itu menenggelamkan wajahnya. Dia menciumi, menyusu seperti bayi lapar. Dia mengenyot puting istriku. Farah hanya bisa menggeliat pasrah.
Nafsu malingnya kini berganti jadi nafsu binatang.
Dia menjelajahi setiap lekuk, menjilati ketiak istriku. Ini adalah pesta rayanya. Dia mungkin tak pernah bermimpi bisa “mencicipi” wanita secantik Farah.
Dia merangsek ke perut, menjilati pusar Farah, tangannya meremas liar, sesekali mencakar pelan.
Perlawanan istriku melemah. Hanya gumaman tertahan dan gelengan kepala. Mungkin ia sudah lelah dan pasrah.
Si Brengsek ini makin menjadi-jadi. Dia akan melakukannya, di depanku.
Dia bangkit dari ranjang. Cepat, dia melucuti kaus dekil dan celana bolongnya. Dia telanjang.
Dan aku… terkesima.
Di balik penampilannya yang kumuh, tubuhnya atletis. Kencang seperti binaragawan. Kulit coklatnya berkilat oleh keringat.
Tapi yang paling membuatku (dan Farah) terperangah adalah “senjata”-nya. Benda itu menjulang gagah, besar, dan panjang di atas rata-rata, tegak sempurna. Kesan kumuh tadi langsung musnah. Dia terlihat… jantan.
Aku melihat perubahan di mata istriku. Wajahnya yang tadi kuyu kini terpana. Matanya yang tadi ketakutan kini melotot beringas. Entah karena syok, atau karena ‘kejutan’ yang tersaji di depannya. Anehnya, pandangannya tak lepas dari sosok telanjang itu.
Aku tak berani menyimpulkan. Tapi wajah seperti itu… adalah wajah yang dirasuki gairah. Apa mungkin… ah, cemburu mulai membakarku.
Pria itu kembali beraksi. Dia mulai dari kaki Farah yang terikat, menjilatinya, mengulum jari-jarinya. Tubuh istriku mengejang seperti tersengat listrik. Aku tak tahu itu rontaan atau… gelengan menahan geli.
“Mas, istrimu enak banget. Boleh ya aku pakai? Nah, boleh… Ha ha. Aku pakai istrimu yaa..”
Aku? Aku cuma bisa menelan ludah.
Tapi sesuatu yang aneh mulai menjalari diriku. Aku jadi penasaran… seperti apa wajah Farah saat “senjata” gagah itu menembus pertahanannya? Sial. Keingintahuan itu membuat milikku di dalam celana ikut menegang. Aku… ngaceng.
Si Brengsek itu kini merangsek ke selangkangan istriku. Menciumi paha bagian dalam. Dan yang membuat jantungku copot… geliat tubuh Farah dan desahannya yang tertahan… itu bukan seperti perlawanan. Dia nampak… menikmati.
Klimaks pemerkosaan itu terjadi. Pria itu menenggelamkan wajahnya di antara paha istriku. Dia menyedot dan mengenyot “mutiara” Farah.
Tak terelakkan… Farah menjerit tertahan. Pinggulnya terangkat tinggi. Dia orgasme!
Bukan main. Biasanya sulit sekali dia mencapai puncak. Ini, bahkan sebelum “pesta utama” dimulai, dia sudah sampai. Dia kejang-kejang nikmat.
Si Maling tahu momennya. Sebelum Farah lemas, dia menindih istriku, menuntun “senjata”-nya ke gerbang kenikmatan. Dengan sekali dorong, benda besar itu amblas, ditelan oleh milik istriku.
Pria itu langsung menggenjot. Dan istriku… istriku menyambutnya. Dia ikut mengangkat pinggulnya, seolah meminta lebih dalam.
Aku terbakar cemburu dan… birahi. Menyaksikan wajah istriku yang berkeringat, rambutnya yang acak-acakan… aku benar-benar tak berdaya.
Genjotan si Maling makin cepat. Aku tahu dia hampir sampai. “Senjata”-nya berkilat licin keluar-masuk. Aku bayangkan betapa nikmatnya istriku. Pinggulnya terus bergoyang, mengimbangi ritme si Maling.
Aku yakin Farah sudah tenggelam. Dia melenguh, menggeliat. Aku tahu dia akan orgasme lagi. Orgasme beruntun! Bersamaku, itu sangat jarang. Bersama si Maling, tak sampai satu jam, dia sudah mau yang kedua kalinya.
Saat puncak semakin dekat, si Maling melepas lakban di mulut istriku. Tapi dia tak memberi kesempatan teriak. Mulutnya langsung membungkam bibir Farah.
Mereka berpagut. Dan itu… bukan paksaan. Istriku membalas ciumannya.
Lalu, “Aaarrgghh.. Cantikk.. Aku keluaarr.. Hhoohh.. Ampun enaknyaa..”
Si Maling menyambar pisau, memotong ikatan tangan Farah. Begitu bebas, tangan istriku tak mendorong. Tangan itu… justru memeluk erat tubuh si Maling.
Mereka klimaks bersama. Tangan Farah mencakar punggung pria itu, meninggalkan bekas merah berdarah.
Beberapa saat kemudian, si Maling bangkit. Menarik “senjata”-nya. Cairan kental miliknya tumpah dari lubang vagina Farah.
Dia tak buang waktu. Dia pakai bajunya, mengambil sarung bantal, memasukkan HP kami, jam tangan, dan uang simpananku (cuma 500 ribu). Dalam dua menit, dia kabur.
Dia mencuri barangku. Dan menikmati istriku.
Farah bengong menatapku. “Maaf, Mas… Aku harus memuaskan nafsunya… agar dia tidak menyakiti Mas…”
Aku diam saja. Aku tahu, nikmat seksual bisa mengubah segalanya. Sampai hari ini, aib itu kami simpan rapat.
Tapi terkadang, aku masih melihat istriku bengong. Dan aku memakluminya.
Bagaimanapun, postur tubuh dan kaliber “senjata”-ku… tak mungkin bisa mengimbangi milik si maling itu.
