Bermadu Kasih di Ranjang

Takdir Emas dan Kehangatan Terlarang di Balik Dinding Megah

Anugerah Sang Pencipta dan Goresan Pena Takdir

Dalam pusaran takdir yang tak terhindarkan, kita hanya dapat menyerahkan segala upaya dan doa. Garis hidup, belahan jiwa, akhir hayat, dan limpahan rezeki, semuanya telah terukir oleh Sang Penentu. Namun, sebagai insan, kita dianugerahi hasrat, sebuah keinginan akan yang sempurna dan yang “lebih” dari yang ada. Kisah ini adalah cermin tentang sepasang insan yang disatukan dalam takdir emas, yang semoga menjadi renungan bagi kita semua.

Pasangan ini, sebut saja Ira dan Rudi, terlahir di bawah bintang keberuntungan. Keduanya adalah pewaris kerajaan bisnis, menjamin bahwa urusan materi hanyalah sehelai tirai tak berarti. Pertanyaan sejatinya bukan pada kekayaan, melainkan pada kebahagiaan jiwa yang akan mereka raih.

Pernikahan mereka melahirkan sebuah mahakarya arsitektur. Sebuah istana megah, hadiah dari orang tua mempelai wanita, yang didesain oleh tangan-tangan arsitek ternama. Enam bulan berlalu, dan berdirilah bangunan kolosal yang memancarkan kemewahan Eropa: megah, luas, lengkap dengan area rekreasi, taman yang asri, dan kolam renang bak permata biru. Untuk mengurus kediaman sebesar ini, mereka membutuhkan beberapa pelayan, tukang kebun, dan tentu saja, seorang penjaga gerbang yang tangguh.

Keseimbangan Harta dan Kekosongan Batin

Setelah satu tahun mengarungi bahtera rumah tangga, Ira (26 tahun) sering dilanda kesepian di tengah kemewahan yang sunyi. Sang suami, Rudi (29 tahun), harus fokus di kantor, mengurus warisan ayah. Meskipun dalam urusan keintiman fisik, hubungan mereka tak pernah bermasalah; setiap ada kesempatan, bilik tidur yang berlapis sutra selalu menjadi saksi pertemuan hasrat mereka, seolah menjadi penawar kepenatan dunia luar.

Namun, di balik dinding kamar yang serba mewah itu, ada sepasang mata yang telah lama terpikat.

Tatapan Rindu dari Balik Jendela

Dialah Unang, penjaga gerbang yang bertubuh kokoh dan berkulit gelap, dengan aura ketegasan mantan militer. Sejak hari pertama bertugas, pesona Nyonya Ira telah menarik perhatiannya. Sosok Ira yang sintal dan anggun, meskipun selalu tertutup di luar, telah menyalakan api hasrat terpendam dalam dirinya.

Malam itu, nasib mempertemukan Unang dengan pemandangan yang memabukkan. Dari balik celah gorden jendela, ia mengamati ritual malam pasangan majikannya. Setelah kelembutan dan bisikan mesra, pakaian mewah itu terlepas satu per satu. Nafas Unang memburu saat menyaksikan lekuk tubuh Ira yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Keindahan yang tersembunyi itu kini tersaji utuh, memicu bayangan liar yang berputar tak henti di benaknya. Selama hampir dua jam, ia adalah saksi bisu dari pertunjukan gairah itu, sebuah gambaran kelembutan dan kesintalan yang tak bisa ia lupakan.

Jembatan Keakraban yang Rapuh

Kesempatan datang ketika Rudi harus melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, meninggalkan Ira dalam pengawasan para staf.

Siang itu, Ira berjalan-jalan santai di sekitar taman, lalu tanpa sengaja singgah di pos jaga Unang.

“Selamat siang, Pak Unang,” sapa Ira ramah, duduk di ruang sederhana yang kontras dengan rumahnya. “Siang, Bu,” jawab Unang, terkejut.

Percakapan mengalir lancar, Ira mengagumi postur dan ketegasan Unang. Ia mengakui kejantanan yang terpancar dari otot kuat pria itu. Malam harinya, Ira kembali mengunjungi pos jaga itu, membawa sedikit makanan, mencari teman bicara untuk mengusir rasa jenuh.

“Saya tidak enak, Bu, masak Nyonya duduk di sini,” ujar Unang canggung. “Ah, tidak mengapa, Pak. Mas Rudi sedang di Kanada. Saya bosan. Kalau Bapak tidak nyaman, Bapak saja yang ikut ke dalam. Kita bisa berbincang lebih santai.”

Unang mengikuti langkah Ira masuk ke dalam rumah. Dari belakang, matanya kembali terpaku pada lekuk pinggul Ira yang hanya tertutup celana tidur dan blus sutra yang menjuntai.

Api yang Tersulut di Tengah Badai

Di sebuah ruangan tamu yang nyaman, perbincangan mereka semakin dalam. Suasana dingin malam yang diiringi hujan deras, ditambah obrolan yang tanpa sengaja menyentuh detail ranjang Ira dan Rudi, membuat Unang merasakan ada celah emosi yang terbuka. Ia pun memanfaatkan momentum itu.

Dengan kelembutan yang memabukkan, Unang menggenggam tangan Ira, lalu memeluknya. Ira, yang batinnya telah lama resah, menyerah pada kelembutan tak terduga itu. Ciuman pertama mendarat di bibir mungilnya, menyulut penyesalan yang terlambat.

Dengan kelihaian seorang pria yang telah lama memendam rindu, Unang menggiring Ira ke kamar tamu. Di sana, ia membaringkan Ira perlahan. Sentuhan tangannya merambat, membuka satu per satu penghalang di dada Ira. Di sana, ia singgah lama, memainkan puting dan memberikan gigitan lembut hingga area itu memerah, menghapus kesadaran Ira akan statusnya sebagai istri orang.

Setelah menanggalkan celana dan CD sutra Ira, jari-jari Unang dengan leluasa menjelajah rongga yang tersembunyi, mengetuk gerbang hasrat hingga Ira tak mampu lagi menahan desahan.

“Ahgggggghhh, Pak… Cepat, Pak…” desah Ira memohon.

Penyatuan yang Melanggar Batas

Unang segera menanggalkan sisa pakaiannya, memperlihatkan tubuh yang selama ini hanya ia bayangkan saat mengintip. Kini, ia bisa merasakan langsung kehangatan yang selama ini hanya menjadi fantasi.

Ia membuka lebar kedua kaki jenjang Ira, menautkannya di bahu kokohnya. Dengan hati-hati, ia mengarahkan kejantanannya yang telah tegak sempurna ke dalam lembah hangat Ira. Sedikit paksaan, dan kesatuan terlarang itu terjadi. Rasa perih dan ngilu yang sesaat segera berganti kenikmatan.

Unang mulai menggenjot, membawa keduanya menuju puncak birahi. Dalam pelepasan itu, ia membiarkan benihnya tumpah di dalam diri sang Nyonya.

Dengan napas terengah dan tubuh saling menghimpit, Unang tertidur di atas tubuh Ira yang lemas namun puas, keringat mereka menyatu, tanpa ada lagi batas kulit yang memisahkan. Malam itu, Unang mengulang permainannya dua kali lagi, dan Ira tak sempat—atau tak ingin—menolak.

Sejak saat itu, kamar tamu di rumah mewah itu menjadi saksi pertarungan birahi yang rahasia. Rudi tak pernah tahu, dan rahasia terlarang ini, yang lahir dari kekosongan dan gairah, hanya tersimpan di antara Ira dan Unang hingga hari ini.

====================================================================

Baca juga :
1. Dua Cinta, Satu Atap – STWJILBAB Cerita Seks
2. Hipnotis Sekolah
3. Kawan Dekat Istriku, Lalu Terjadi …
4. Kebugaran di tempat Gym
5. Kejadian Tak Disangka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *