Malam yang Mengejutkan di Kediaman Kepala Sekolah

Kisah terbaru yang hadir di Cerita STW JILBAB hari ini mengangkat tema tentang dosen dan mahasiswanya, dengan kejutan tak terduga di bagian akhirnya. Penasaran? Yuk, simak kelanjutan ceritanya di sini.

====================================================================

Saat ujian tengah semester, di tengah rintikan hujan yang membasahi perjalanan, saya menerima panggilan dari dosen perempuan saya yang relatif masih muda, berusia sekitar 26 tahun. Sosoknya tampak mempesona dengan rambut lurus sebahu. Ia sendiri merupakan alumni dari perguruan tinggi yang sama. Pemanggilan ini terjadi karena saya diminta untuk mengurus beberapa keperluannya sebelum ia pergi ke luar kota.

Saya pun tiba di rumahnya sekitar pukul 7 malam. Saat itu, di rumah hanya ada seorang asisten rumah tangga (ART) yang juga masih muda dan menarik. Suami dosen saya belum kembali dari rapat di Puncak, sehingga suasana rumah terasa sepi, hanya dihuni oleh para wanita.

Ketika dosen saya membukakan pintu, saya sempat tertegun karena ia mengenakan gaun tidur tipis, yang membuat lekuk payudaranya tampak menonjol. Saya perhatikan, sepertinya ia tidak menggunakan bra. Buah dadanya terlihat masih padat dan tegak, dengan puting yang jelas dan kemerahan, tampak berukuran sekitar 36B.

Saat saya sedang memperhatikan dosen saya, saya tertangkap basah oleh ART-nya yang ternyata sejak tadi juga memperhatikan saya. Saya sempat merasa canggung, namun ART itu justru mengedipkan mata kepada saya sebelum menyuguhkan minuman. Ketika ia menyodorkan gelas, belahan dadanya terlihat (karena pakaiannya yang cukup terbuka) dan ukurannya pun tampak besar, serupa dengan majikannya.

Dosen saya, yang telah duduk di hadapan saya, berkata (mungkin karena melihat arah pandang saya ke dada ART), “Kamu mau ya merasakan susu dari payudara yang besar…?”

Saya menjawab dengan terbata-bata, “A-ah… tidak, Bu…!

Ia melanjutkan, “Tidak masalah kok kalau kamu ingin… Ibu juga bersedia melayanimu.”

Menganggapnya sebagai gurauan, saya menjawab santai, “Oh, boleh saja kalau begitu, Bu!”

Tak disangka, ia kemudian mengajak saya masuk ke ruang kerjanya.

Begitu kami di dalam, ia berucap, “Anton, tolong periksa, sepertinya ada sesuatu di punggung Ibu…!”

Saya menurutinya dan memeriksa punggungnya. Karena tidak menemukan apa-apa, saya katakan, “Tidak ada apa-apa, Bu!”

Tiba-tiba, ia membuka seluruh gaun tidurnya sambil tetap membelakangi saya. Punggungnya terlihat begitu mulus dan putih. Kemudian, ia menarik tangan saya ke payudaranya; sungguh kenyal dan berisi. Saya meraba putingnya, dan benar perkiraan saya, putingnya besar dan masih mengeras.

Ia lalu berbalik, tersenyum, dan membuka celana dalamnya. Terlihat area sensitifnya ditumbuhi bulu yang lebat.

Saya bertanya, “Mengapa Ibu membuka pakaian…?”

Dia menjawab, “Sudah, tenang saja! Puasakan aku malam ini, kalau perlu sampai pagi.”

Karena hasrat untuk merasakan tubuhnya memuncak, saya tanpa ragu menciumi dan menghisap buah dadanya hingga ia merasa kegelian. Ia pun membuka pakaian saya dan sedikit terkejut melihat ukuran kejantanan saya.

“Oh, besar dan panjang…! (karena ukuran penis saya memang sekitar 17 cm dengan diameter 3 cm)”

Dosen saya mulai terlihat aktif; ia mengulum penis saya hingga ke bagian biji kemaluan.

Ah… ahh, Bu… enak sekali, teruskan Bu, saya belum pernah dihisap seperti ini…!” desah saya.

Merasa dipuji, ia semakin bersemangat memaju-mundurkan mulutnya. Saya terus meremas payudaranya, yang ia akui terasa sangat nikmat. Kemudian, ia mengajak saya mengubah posisi menjadi 69.

Saya menjilati vaginanya dan memasukkan jari saya ke dalamnya.

Ah… Anton, aku sudah tidak tahan lagi! Masukkan sekarang saja…!” pintanya.

“Baik, Bu!” jawab saya sambil mulai mencoba memasukkan batang kemaluan saya ke liang senggamanya.

Ah, ternyata sempit juga ya, Bu! Jarang dipakai ya?” tanya saya.

“Iya, Anton. Suami Ibu jarang bercinta, itu sebabnya Ibu belum punya anak. Dia pun juga sebentar sekali saat bermain,” jawabnya.

Ia terus menggeliat saat penis saya mulai masuk sambil berkata, “Ohh… ohhh… Penismu besar sekali, belum masuk sepenuhnya ke vaginaku, ya?”

“Ah, ini sedang diusahakan, Bu,” jawab saya sambil terus berjuang memasukkan kejantanan saya.

Untuk melonggarkan lubang vaginanya, saya memutar-mutar dan mengocok batang kemaluan saya. Usaha itu berhasil, lubang senggamanya mulai terbuka dan batang saya sudah masuk setengahnya.

Ohhh… ohhh… Terus Nton, masukkan, jangan ragu-ragu!” ia memohon.

Setelah memutar dan mengocok, akhirnya seluruh “rudal” saya berhasil masuk ke dalam liang kewanitaannya.

Oohh pssfff… ahahhah… ah…” desahnya diikuti teriakan, “Oh Tuhan! Ohhh!

Saya mulai mengocok batang kemaluan saya keluar masuk. Belum sampai satu menit, dosen saya sudah mencapai klimaks pertamanya.

Oh Anton, aku keluar…” Cairan itu terasa hangat dan kental.

Cairan tersebut justru memudahkan saya untuk terus memaju-mundurkan kejantanan saya. Karena cairan yang keluar cukup banyak, terdengar bunyi “Clep… clep… sleppp… slepp…” yang cukup keras. Posisi saya menghadap pintu membuat suara itu mungkin terdengar hingga ke luar ruang kerja.

Saat itu, saya sempat melihat ART-nya mengintip permainan kami. Ternyata, ART itu sedang meremas payudaranya sendiri, terlihat jelas efek gairah yang ia rasakan. Oh, betapa bahagianya saya, sambil terus mengocok maju-mundur di vagina dosen saya. Saya juga mendapatkan “tontonan gratis” dari ART yang sedang bermasturbasi—ini kali pertama saya melihat wanita bermasturbasi.

Setelah 15 menit bermain dengan posisi saya di atasnya, saya meminta dosen saya pindah ke posisi di atas. Ia terlihat agresif dengan posisi tersebut.

Aha… ha… ha…” ia berseru, seolah sedang menaiki rodeo di atas tubuh saya.

Lima belas menit kemudian, ia mencapai orgasme kedua.

Oh, cepat sekali dia orgasme, padahal aku belum sekalipun klimaks,**” batin saya.

Setelah orgasme kedua, kami kembali berganti posisi. Ia berada di atas meja, sementara saya berdiri di depannya. Saya terus bermain hingga menyentuh batas dinding rahimnya.

Oh… oh… Anton, pelan-pelan Nton…!” pintanya.

Nampaknya ia memang belum pernah dimasuki sejauh ini oleh suaminya. Lima belas menit kemudian, ia mengalami orgasme ketiga.

Ah Anton, aku keluar, ah… ah… ahhh… nikmat!” desahnya sambil kembali memuncratkan cairan yang banyak.

Setelah itu, ia mengajak saya ke bathtub di kamar mandi. Ia berharap saya bisa orgasme di sana, karena ia merasa tidak sanggup lagi membalas permainan yang saya berikan. Di bathtub yang terisi separuh air, kami mulai menggunakan sabun mandi. Karena dosen saya sangat menikmati usapan di payudaranya, tubuhnya terus berguncang. Ia membalasnya dengan meremas buah zakar saya menggunakan sabun (Anda bisa bayangkan betapa nikmatnya sensasi diremas dengan sabun).

Setelah 15 menit bermain di bathtub, kami berdua akhirnya mencapai klimaks: orgasme keempat bagi dosen saya, dan yang pertama bagi saya.

Oh Anton, aku mau keluar lagi!” katanya.

Setelah terasa penuh di ujung kepala penis saya, saya keluarkan batang saya dan menumpahkan cairan hangat itu di atas buah dadanya sambil mengusapnya lembut.

Oh Anton, kamu benar-benar kuat dan partner yang luar biasa. Kamu tidak cepat orgasme, jadi aku bisa klimaks berkali-kali. Ini pertama kalinya bagiku, Anton. Suamiku biasanya hanya bisa membuatku orgasme sekali, bahkan kadang tidak sama sekali,” ujar dosen saya.

Karena kelelahan, ia terkulai lemas di bathtub. Saya keluar dari ruang kerja dalam keadaan telanjang, mencari pakaian saya yang berserakan.

Di luar ruang kerja, saya melihat ART dosen saya tergeletak di lantai di depan pintu ruangan, sambil memasukkan jari-jarinya ke dalam vaginanya.

Melihat tubuh ART itu yang juga montok dan berkulit putih bersih, saya mulai membayangkan bersetubuh dengannya. Hal menarik dari tubuhnya adalah payudaranya yang besar, sekitar 36D.

Akhirnya, saya putuskan untuk melanjutkan ke ronde kedua bersama ART. Ia juga tampak sangat bergairah setelah menyaksikan permainan saya dengan majikannya.

Saya langsung menindih tubuhnya yang montok itu dengan penuh nafsu. Saya mulai melakukan pemanasan dengan mencium dan menjilati seluruh permukaan payudaranya, lalu turun ke bibir kemaluannya yang ditumbuhi hutan lebat itu.

Tidak lama kemudian, kami mulai saling memasukkan alat kelamin kami. Kami bermain sekitar 30 menit, dan ART ini ternyata lebih kuat dari majikannya. Terbukti, setelah 30 menit bermain, kami berdua baru mencapai klimaks masing-masing.

Ternyata, saya telah bermain seks dengan dua wanita bernafsu ini selama satu setengah jam. Saya pun akhirnya pulang dengan rasa lelah yang luar biasa, karena ini adalah pengalaman bercinta pertama saya dengan wanita.

====================================================================

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *