Kawan Dekat Istriku, Lalu Terjadi …

STWJILBAB menceritakan: Perselingkuhan Tak Terduga

STWJILBAB menceritakan sebuah kisah yang tidak biasa dan penuh intrik, dijamin menarik perhatian pembaca karena alur ceritanya yang seru dan mengundang rasa penasaran.

Malam sebelumnya, aku pulang sangat larut, tiba di rumah pukul 4 pagi. Pekerjaanku sebagai auditor memang menuntut target laporan yang ketat. Untungnya, di tim kerjaku ada seorang rekan wanita yang sangat terbuka, sebut saja Vio. Dialah yang semalam ‘melayaniku’ untuk meredakan ketegangan kerja. Baginya, berhubungan intim dengan orang lain bukan hal tabu, selama suaminya tidak melihat kejadian itu secara langsung.

Terbangun di kasur, aku masih dihanyutkan kenangan indah semalam. Seharusnya aku bisa pulang jam 10 malam, tapi aku dan Vio terlalu larut dalam tiga ronde penuh gairah hingga pagi menyambut.

“Waduh, repot juga kalau begini,” pikirku, sambil merasakan hasrat yang memuncak. Karena istriku, Oliv, sedang keluar bersama anak-anak (ia memang lebih suka mengurus rumah tanpa bantuan ART agar anak-anak mandiri), rumah pun kosong.

Aku merebahkan diri di sofa ruang tengah, menyalakan film erotis untuk meredakan birahi. Aku hanya mengenakan kaos, tanpa celana. Perlahan, aku mulai membelai dan mengocok kejantananku.

Pikiranku melayang pada Felicia, sahabat istriku sejak SMP. Felicia, keturunan Tionghoa dengan tubuh mungil berisi. Aku selalu terobsesi pada kulitnya yang sangat putih dan mulus bagaikan patung lilin, terutama pantatnya yang bulat indah. Fantasi liarku membuat batangnya semakin keras dan merah padam.

Saat sedang asyik dalam fantasi dan aktivitas pribadiku, tiba-tiba terdengar suara sepatu dan seseorang memanggil istriku.

“Liv… Oliv… aku datang,” seru suara itu.

“Oh my goshFelicia!” Suara itu ternyata Felicia. Ia memang terbiasa langsung masuk tanpa mengetuk karena keakraban keluarga kami.

Belum sempat aku bertindak, Felicia sudah muncul di ruang tengah.

“AAAHHH… ANDREEEEEEEE…!!!! Kamu lagi ngapain?” teriaknya terkejut.

Aku panik, gugup, dan mati gaya. Orang yang selama ini hanya ada dalam fantasiku kini berdiri di hadapanku dan melihatku dalam kondisi telanjang di bagian bawah.

Setelah protes sesaat, Felicia duduk. Aku mencoba membela diri bahwa aku hanya self-service karena sedang horny. Ia menyuruhku memakai celana, tapi aku menolak, merasa sudah terlambat.

“Aku pamit dulu. Salam buat istrimu,” katanya, beranjak pulang.

Aku buru-buru menahannya. “Fel, tunggu sebentar. Tolong aku, tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit,” pintaku.

Felicia terkejut, “Kamu gila ya! Aku tidak mungkin melakukan hal itu!”

“Fel,” kataku tenang. “Aku tidak memintamu melakukan hal itu. Aku hanya minta tolong, kamu duduk di depanku, sambil melihatiku colai.”

Felicia menatapku tajam.

Aku melanjutkan rayuanku, “Aku janji tidak akan menyentuhmu. Tapi, bisakah kamu buka bajumu? Pakai Bra dan celana dalam saja, sebagai balasan karena kamu sudah melihatku telanjang.”

Setelah ragu sejenak, Felicia setuju, dengan syarat aku tidak menyentuhnya.

Ia perlahan membuka kemejanya. Payudara yang terbungkus bra merah seksi itu menyembul, kontras dengan kulitnya yang sangat putih. Aku menelan ludah. Setelah itu, ia menurunkan celana jeansnya. Di balik celana jeans itu, terlihat paha yang sangat putih dan mulus, dibungkus celana dalam satin mini sewarna Bra-nya.

“Nih, aku sudah buka baju. Sekarang kamu terusin colai-mu. Aku duduk saja.”

Felicia duduk, dan aku meminta ia membuka pahanya sedikit agar aku bisa melihat celana dalamnya.

Sambil mengocok kejantananku, aku terus memandang tubuh Felicia. “Oh… Fellll… kamu mulus banget sih…” bisikku. Felicia tersenyum, matanya mulai sayu, napasnya terdengar sedikit tertahan.

Aku melihat celana dalamnya yang tipis mulai basah oleh cairan. Tangannya mulai meraba dada, lalu turun ke paha dan selangkangan. Aku pura-pura memejamkan mata agar dia merasa bebas.

Aku membuka mata dan melihat tangan kirinya meremas payudaranya, dan Bra di sebelah kiri sudah diturunkan. Putingnya pink dan tegak mengacung. Tangan kanannya sudah bermain di balik celana dalamnya.

“Sssshh…. oofff…. hhhhhh…..” kudengar desisannya. Aku kembali memejamkan mata, menikmati rintihan Felicia.

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang hangat, basah, dan lembut menyentuh batang dan tanganku.

Aku membuka mata, terkejut. “Fel… kamu…”

“Aku tidak tega melihatmu menderita, Ndre,” jawab Felicia, sambil membelai kejantananku dengan tangan lembutnya.

Perlahan, batangku dihisap oleh Felicia. Tak tahan, kutarik pinggulnya dan melepaskan celana dalamnya.

“Kamu mau ngapain, Ndre?” tanyanya terkejut.

Aku tidak menjawab. Jari-jariku sibuk meremas pantat putih mulus yang selama ini hanya jadi khayalanku.

“Terserah… yang penting kamu puas,” katanya pasrah.

Setelah puas dengan pantatnya, jariku bergerak ke vaginanya. Felicia merintih keenakan.

“Keluarin sayang… batang kamu sudah berdenyut tuh… sudah mau muncrat kan…” bisiknya.

“I…iy…iyaaa… Oooofffffffff….. argggghhhhhhhhhh…..”

Aku tidak bisa menahan diri lagi. Spermaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir, dan dada Felicia. Tangannya masih tetap mengocok, seolah ingin melahap semua cairan yang keluar.

“Fel… kamu tidak geli sayang? Muka, bibir, dan dada kamu kena spermaku?” tanyaku.

Felicia menggeleng sambil tersenyum. “Sperma kamu seger banget, beda deh pokoknya.”

“Mau lagi?” tanyaku.

“Mau sih… cuma takut Vio datang…”

Aku membimbingnya kembali ke sofa, meminta ia duduk dengan kaki terbuka. Kulihat vaginanya licin dan basah. Aku mendekat, dan lidahku langsung menyergap klitorisnya.

“Ndreee… kamu gilaaa yaaa…” bisiknya sambil menjambak rambutku.

Aku mengabaikan rintihannya dan terus menjilatinya. Setelah memuaskannya hingga meledak dalam erangan yang keras, aku segera menancapkan batangku yang sudah mengeras ke dalam vaginanya. Blessss…….

“Ahhhhkkk….. mmmmppfff….. oooooggggghhhh….” pantat Felicia tersentak ke depan.

“Ayo, ndre… goyang batang kamu… aku sudah mau keluar lagiiiihhh…” mohonnya.

Aku mengocoknya dengan ganas. Suara gesekan batangku nyaring terdengar. Felicia menjerit, tubuhnya bergetar, dan mekinya terasa berdenyut sangat kuat.

Saat aku hendak mencapai puncak, bel rumah berbunyi.

“Mas… Mas Andree…” suara wanita di depan memanggil.

Aku terkesiap. Itu suara Rina, sahabat istriku yang lain.

“Ndree… cepat masuk kamarku dulu!” bisik Felicia panik.

Dia masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku buru-buru memakai kaos dan celana. Saat Rina masuk, ia melihat Felicia keluar dari kamar mandi, setengah telanjang, sambil memegang celana dalam satin yang basah.

“Felll…? Kamu lagi ngapain?” tanya Rina curiga.

“Oohhhhhhh… aku tau… pasti kamu berdua lagi berbuat yaaa…?” tuduh Rina.

Aku menyerah dan mengakui, “Memang benar, aku baru saja menjilat mekinya. Belum sempat kuentot, keburu kamu datang.”

“Kamu tuh ya… udah punya istri masih doyan yang lain. Ini cewek juga sama aja, gatal lihat suami sahabatnya sendiri,” maki Rina.

“Terserah kamu mau laporin ke Vio atau polisi. Aku pasrah,” kataku.

“Aku tidak akan melapor. Tapi ada syaratnya,” Rina menawarkan.

“Apa syaratnya?” kami bertanya bersamaan.

“Teruskan apa yang kalian berdua tadi lakukan. Aku duduk di sini, mau nonton. Bagaimana?”

Kami berdua terkejut, namun Felicia menyetujui. Kami kembali ke sofa, telanjang bulat. Aku mulai lagi dengan Felicia, menciumnya, dan meremas pantatnya.

Aku melihat Rina yang duduk menyilangkan kaki, wajahnya tegang. Felicia yang sudah horny mendesakku untuk cepat.

Kami kembali beraksi. Aku menjilati Felicia lagi, membuatnya menjerit keras mencapai orgasme hingga tubuhnya kaku dan gemetaran. Setelah itu, aku menancapkan batangku ke mekinya.

Felicia memohon agar aku mengeluarkan sperma di dalam. “No problem, honey… aku safe kok…”

Aku mengocok makin cepat. Felicia merintih.

AAAGGHHHHHHH……… Crottt….. Crooootttt…..

Aku muncratkan cairan di rahimnya. Setelah menarik diri, Felicia segera membersihkan vaginanya dengan jari, yang belepotan dengan spermaku dan lendir birahinya.

“Berani kamu telan lagi?” tantangku.

“Siapa takut…” katanya sambil menjilat tangannya yang penuh cairan. “Hari ini kenyang sekali aku… sarapan pejuh kamu dua kali… hihihihi.”

Ia bahkan mengusapkan sisa spermaku ke wajahnya, berkata itu bagus untuk kulit.

Tiba-tiba Felicia mengajakku, “Dree… ssstttt… coba lihat tuh… jailin yuk…”

Aku baru ingat Rina. Kulihat Rina ternyata sedang beraktivitas sendiri: memasukkan kedua jarinya ke vaginanya (masturbasi). Otot mukanya menegang, menunjukkan nafsu terpendam yang ia lampiaskan saat menonton kami.

Felicia teman istriku yang sangat menggoda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *